Sunday, February 19, 2012

Di manakah kita?

Sa'id bin 'Amir al-Jumahiy r.a. adalah seorang sahabat yang dilantik Umar r.a. sebagai pemerintah Syam. Penduduk Syam telah mengadu kepada Umar r.a. tentang Sa'id. Diantaranya ialah bahawa Sa'id selalu jatuh pengsan. Lalu Sa'id r.a. menjawab:

"Sesungguhnya aku kadang-kadang pengsan adalah disebabkan aku dahulu telah melihat pembunuhan Khubaib al-Ansari ra di Makkah. Orang-orang Quraisy telah memotong dagingnya hidup-hidup dan menanggungnya diatas batang pokok kurma. Ketika itu mereka bertanya kepadanya "Adakah kamu suka kalau Muhammad ditempatmu sedangkan dirimu selamat sejahtera." Beliau menjawab:

"Demi Allah aku sesungguhnya tidak suka bersama anak-anak dan isteriku dalam keadaan sihat dan mendapat nikmat sedangkan Rasulullah saw tercucuk duri."

"Demi Allah! Saya tidak mampu mengingati tragedi ngeri tersebut. Bagaimana saya boleh membiarkannya diperlakukan sedemikian sedangkan saya tidak membantunya. Saya merasakan Allah tidak mengampunkan kesalahan saya tersebut.... sebab itulah saya jatuh pengsan."

Kisah di atas ini terasa sangat 'dekat' sekali terutamanya bagi diri saya sendiri. Kita dan saudara seagama kita adalah terkait oleh satu ikatan yang sangat kuat, merentasi masa dan ruang. Itulah tali keimanan. Bila sesuatu terjadi kepada saudara-saudari kita sedangkan kita tidak merasakan apa-apa, pastilah ada sesuatu yang tidak betul.

Terasakah..? Terasakah penderitaan yang ditanggung oleh Khubaib yang dicincang hidup-hidup? Terasakan kesengsaraan Said ketika mengenangkan saudaranya sendiri diseksa di depan mata? Sedangkan dia pada ketika itu adalah seorang Musyrik? Terasakah penderitaan yang ditanggung oleh Rasulullah s.a.w. di sepanjang perjalanan hidup baginda? Agar nikmat iman dan Islam ini sampai kepada kita umat yang sangat dicintainya?

Lalu bagaimanakah perasaan kita kepada saudara-saudara kita di Palestin, Iraq, Kosovo, Syria? Tidak rawankah hati kita melihat anak-anak kita di Somalia? Tidak sakitkah hati kita mengenangkan adik dan kakak kita di Afghanistan yang dicabuli kehormatannya?

Kalau kita benar-benar kasihkan saudara-saudara kita, sayangkan mereka.. kita takkan pernah lupakan mereka, kita takkan pernah lupa untuk mendoakan mereka..



(This is the will of Muhammad Abdul-latif Alalwa which he wrote a day before he was killed by thugs of Assad. It is as if he was feeling that his death was near...)

In the name of Allah, the most Gracious, the most Merciful.

By Allah, my eyes have not shed tears since the beginning of these events until I attempted to hide my photos and recollections. My request to those who remember me is that they supplicate for me and for the Ummah of Muhammad (saw), and that they tell Muhammad, the Messenger of Allah, that we are Muslims who desire nothing except to raise the flag of Islam.

May Allah send his blessings upon you O my beloved, O Messenger of Allah. We seek and pray for your intercession on the Day of reckoning. By Allah it is a trust upon anyone who reads this letter to work all his life for Islam without pretense or pride. Indeed, the Messenger spoke the truth when he said: "Islam began strange and it will return strange."

The needy slave of Allah,
Muhammad Abdul-latif Alalwa

There is no god but Allah and Muhammad is the Messenger of Allah.

No comments:

Post a Comment