It was only last year that I was awoken. And things went fast since then, way too fast. Before that day, I never imagined that my hijrah would take place that soon. But alhamdulillah, it did.
It was only last year that I began to learn more about Islam. And everytime I did, I cant help but to fall in love more and more to this Deen.
It was only last year that I begun to feel true love. Allah, your kindness touched me.. I who once got nothing, You gave me Islam, and with Islam you gave me everything that I've never imagined. Thank You Allah.
It was only last year that I begun to miss someone to tears. Rasulullah, great is my hope to see you.. To thank you.. I wonder how do you look. I wonder how does it feel to meet you. And I'm scared that I'm not a worthy ummah for you..
It was only last year that I began to learn al-Quran, and how to recite properly. Alhamdulillah, He made it easy for me. I soon fell in love with it too that not even all of my other talents combined together could outweigh this gift.
It was only last year I began to meet great brothers and sisters in Islam, one after another. Learnt a lot in each encounters, then hoping that our paths would cross again in each partings.
And perhaps it was only last year that I first knew you, too.
Since last year, so many things happened. But starting from tomorrow onwards, no longer 'last years' for me. Need to act more as a person who hijrah-ed 'two years ago'.
Saturday, December 31, 2011
Friday, December 30, 2011
Ada waktu kita sedih
Ada waktu kita sedih. Sedih itu, sedih ini. Sedih dengan pelbagai perkara. Kematian, kemalangan, kehilangan, cacian dan makian, umpatan orang dan sebagainya.
Ada juga yang sedih dengan rupa parasnya, sedih dengan kejadiannya, sedih mengenangkan nasibnya, sedih dengan cara hidupnya.
Tidak kurang juga yang sedih dengan dirinya yang lemah, keimanannya yang rendah, ibadahnya yang sedikit dan sebagainya.
Ada waktu, memang manusia akan merasakan kesedihan.
Kenapa saya cakap begini?
Entah.
Orang mukmin takkan bersedih lama.
Percayakah anda bahawa orang mukmin tidak akan bersedih lama?
Saya meyakini hal itu. Memanjang-manjangkan kesedihan, bukanlah sebahagian dari ciri seorang mukmin. Hatta Rasulullah SAW sendiri, bersedih hanya seketika. Baik ketika kematian anak-anaknya, mahupun kematian sahabat-sahabat baginda yang tercinta. Bahkan kesedihan itu tidak termuncul saat baginda menderita sakit diseksa, lapar, perang dan sebagainya.
Tetapi sindrom dari kalangan kita adalah, kita suka memanjangkan kesedihan.
Perasankah kita, apabila kita memanjang-manjangkan kesedihan, apakah sebenarnya yang telah ‘kita hilangkan’ dalam kehidupan kita?
Allah SWT.
Ya. Seakan-akan Allah itu tidak wujud, dan membiarkan kita.
Seakan-akan Allah itulah Yang Zalim, dan Dialah yang sengaja membuatkan kita bersedih.
Benarkah?
Apakah bicara Allah berkenaan kesedihan?
Saya suka dengan ayat-ayat ini:
“Kami berfirman: Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-Baqarah ayat 38.
” Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. “ Surah Al-Baqarah ayat 62.
“(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-Baqarah ayat 112.
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-Baqarah ayat 262.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-Baqarah ayat 277.
“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” Surah Ali Imran ayat 120.
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” Surah Ali Imran ayat 139.
“Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: Kami telah beriman, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah. Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” Surah Al-Maidah ayat 41.
“Katakanlah: Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.” Surah Al-Maidah ayat 68.
“Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-An’am ayat 48.
“(Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah? (Kepada orang mukmin itu dikatakan): Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.” Surah Al-A’raf ayat 49.
Saya tidak tahu apa perasaan kalian apabila membaca semua terjemahan ini.
Tetapi saya, rasa lega.
Rasa tenang.
Rasa damai.
Bila bersama dengan Allah, ikut apa yang Rasulullah ajar, hidup bersungguh-sungguh mengamalkan Islam, ajak manusia lain buat kebaikan, itu semua hakikatnya memadamkan kekhuatiran, kesunyian, kesedihan, ketakutan dan sebagainya.
Betapa selepas membaca ayat-ayat tadi, jelas kepada kita bahawa, kita tidak sepatutnya menjadi manusia yang memanjang-manjangkan kesedihan mereka, terus jatuh dan jatuh ke dalam lohong hitam perasaan mereka.
Kita ada Allah.
Dan kehidupan kita bersamaNya memadamkan segala kenegatifan.
Penutup: Kesedihan adalah keperluan. Tetapi dosnya tidak boleh berlebihan.
Sedih memang baik. Sekali sekala ia melembutkan hati. Tanda jiwa yang sensitif. Tanda hati yang peka.
Tetapi merendam roh kita ke dalam kesedihan terlalu lama akan mereputkannya.
Apakah alasan untuk memanjangkan kesedihan?
Kesedihan tidak akan pernah menjadi penyelesaian kepada sesuatu masalah.
Maka perhatikanlah masalah, bergerak menyelesaikannya.
Jika masalah itu bukan datang dengan penyelesaian, sebagai contoh: Kematian rakan karib, murabbi tercinta, ibu bapa tersayang dan sebagainya, hendaklah tabah dan melangkahlah memandang apa yang masih ada pada kita.
Sesungguhnya seorang mukmin itu tidak sepatutnya bersedih terlalu lama.
Kerana dia ada Allah di sisinya.
Dan kesedihan bukanlah cara seorang hamba Allah mengabdikan diri kepadaNya.
source : http://ms.langitilahi.com/motivasi-ada-waktu-kita-sedih/
JANGAN SEDIH! (^_^)v
Ada juga yang sedih dengan rupa parasnya, sedih dengan kejadiannya, sedih mengenangkan nasibnya, sedih dengan cara hidupnya.
Tidak kurang juga yang sedih dengan dirinya yang lemah, keimanannya yang rendah, ibadahnya yang sedikit dan sebagainya.
Ada waktu, memang manusia akan merasakan kesedihan.
Kenapa saya cakap begini?
Entah.
Orang mukmin takkan bersedih lama.
Percayakah anda bahawa orang mukmin tidak akan bersedih lama?
Saya meyakini hal itu. Memanjang-manjangkan kesedihan, bukanlah sebahagian dari ciri seorang mukmin. Hatta Rasulullah SAW sendiri, bersedih hanya seketika. Baik ketika kematian anak-anaknya, mahupun kematian sahabat-sahabat baginda yang tercinta. Bahkan kesedihan itu tidak termuncul saat baginda menderita sakit diseksa, lapar, perang dan sebagainya.
Tetapi sindrom dari kalangan kita adalah, kita suka memanjangkan kesedihan.
Perasankah kita, apabila kita memanjang-manjangkan kesedihan, apakah sebenarnya yang telah ‘kita hilangkan’ dalam kehidupan kita?
Allah SWT.
Ya. Seakan-akan Allah itu tidak wujud, dan membiarkan kita.
Seakan-akan Allah itulah Yang Zalim, dan Dialah yang sengaja membuatkan kita bersedih.
Benarkah?
Apakah bicara Allah berkenaan kesedihan?
Saya suka dengan ayat-ayat ini:
“Kami berfirman: Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-Baqarah ayat 38.
” Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. “ Surah Al-Baqarah ayat 62.
“(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-Baqarah ayat 112.
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-Baqarah ayat 262.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-Baqarah ayat 277.
“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” Surah Ali Imran ayat 120.
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” Surah Ali Imran ayat 139.
“Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: Kami telah beriman, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah. Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” Surah Al-Maidah ayat 41.
“Katakanlah: Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.” Surah Al-Maidah ayat 68.
“Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-An’am ayat 48.
“(Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah? (Kepada orang mukmin itu dikatakan): Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.” Surah Al-A’raf ayat 49.
Saya tidak tahu apa perasaan kalian apabila membaca semua terjemahan ini.
Tetapi saya, rasa lega.
Rasa tenang.
Rasa damai.
Bila bersama dengan Allah, ikut apa yang Rasulullah ajar, hidup bersungguh-sungguh mengamalkan Islam, ajak manusia lain buat kebaikan, itu semua hakikatnya memadamkan kekhuatiran, kesunyian, kesedihan, ketakutan dan sebagainya.
Betapa selepas membaca ayat-ayat tadi, jelas kepada kita bahawa, kita tidak sepatutnya menjadi manusia yang memanjang-manjangkan kesedihan mereka, terus jatuh dan jatuh ke dalam lohong hitam perasaan mereka.
Kita ada Allah.
Dan kehidupan kita bersamaNya memadamkan segala kenegatifan.
Penutup: Kesedihan adalah keperluan. Tetapi dosnya tidak boleh berlebihan.
Sedih memang baik. Sekali sekala ia melembutkan hati. Tanda jiwa yang sensitif. Tanda hati yang peka.
Tetapi merendam roh kita ke dalam kesedihan terlalu lama akan mereputkannya.
Apakah alasan untuk memanjangkan kesedihan?
Kesedihan tidak akan pernah menjadi penyelesaian kepada sesuatu masalah.
Maka perhatikanlah masalah, bergerak menyelesaikannya.
Jika masalah itu bukan datang dengan penyelesaian, sebagai contoh: Kematian rakan karib, murabbi tercinta, ibu bapa tersayang dan sebagainya, hendaklah tabah dan melangkahlah memandang apa yang masih ada pada kita.
Sesungguhnya seorang mukmin itu tidak sepatutnya bersedih terlalu lama.
Kerana dia ada Allah di sisinya.
Dan kesedihan bukanlah cara seorang hamba Allah mengabdikan diri kepadaNya.
source : http://ms.langitilahi.com/motivasi-ada-waktu-kita-sedih/
JANGAN SEDIH! (^_^)v
Thursday, December 29, 2011
Aku tahu, kerana aku juga sama
Aku tahu kau pernah terluka
Aku tahu kau pernah pula mencinta
Aku tahu kau pernah membangun mimpi
Aku tahu kau pernah tersesat dalam kebingunganmu
Aku tahu kau pernah hampir gila..
Aku tahu kehadiranku membuatmu goyah
Dan tiada terdetik niat di hatiku untuk mengambil kesempatan
Aku tahu, walau kau sudah berlari,
sedikit petanda dariku dapat membuatmu berbalik
Aku tahu lukamu dalam namun 'perasaan itu' ternyata lebih dalam lagi
Ya aku tahu, kerana aku juga sama
Aku faham bila ternyata sukar untuk memaafkanku,
Walau maaf sudah terucap di mulut,
Aku sungguh berharap suatu saat hatimu kan tulus mengampuniku
Dan aku tak anggap kita memutuskan silatulrahim,
Walau kita menjauh dengan sengaja,
Aku sungguh berharap kepada-Nya kita diberikan pertemuan terbaik
Dan sekarang ini, di dalam kerapuhan kita memilih untuk menyendiri,
Membasuh semua dosa,
Membalut semua luka,
Mencari jejak yang menghilang
Aku ingin agar kita menjadi kuat dulu, lebih kuat dari kita yang dulu
Aku ingin kita menemukan diri kita kembali
Aku ingin kita menjadi kuat untuk dapat memberi cinta
Aku ingin kita menjadi kuat untuk dapat saling memaafkan
Aku ingin agar kita menjadi kuat untuk dapat melihat janji-Nya
Entah rasa ini akan berubah menjadi seperti apa
Tetapi jika kau sungguh mengasihiku,
Kau akan membiarkanku sembuh.
Itulah yang ku ingin kau lakukan,
Dan kau juga, cepatlah sembuh..
Aku akan mencuba untuk tidak berharap kepada kasihmu
Ku tahu kau juga sama
Apalah sangat nilainya rasa yang tidak halal
Apalah sangat makna cinta yang tidak membawa kepada redha-Nya
Aku takut Dia cemburu
Dahulu aku memilihmu,
Sekarang aku memohon kepada-Nya untuk memilihkanku
Sungguh aku akan kembali
Kembali untuk melukis pelangi
Kembali membawa sejuta rasa yang hilang
Walau aku takkan pernah mampu untuk menjanjikan,
Kalau aku kembali untukmu.
Kau juga, cepatlah kembali
Dan ketika kembali nanti, semoga dunia akan bisa melihat senyummu lagi..
Aku tahu kau pernah pula mencinta
Aku tahu kau pernah membangun mimpi
Aku tahu kau pernah tersesat dalam kebingunganmu
Aku tahu kau pernah hampir gila..
Aku tahu kehadiranku membuatmu goyah
Dan tiada terdetik niat di hatiku untuk mengambil kesempatan
Aku tahu, walau kau sudah berlari,
sedikit petanda dariku dapat membuatmu berbalik
Aku tahu lukamu dalam namun 'perasaan itu' ternyata lebih dalam lagi
Ya aku tahu, kerana aku juga sama
Aku faham bila ternyata sukar untuk memaafkanku,
Walau maaf sudah terucap di mulut,
Aku sungguh berharap suatu saat hatimu kan tulus mengampuniku
Dan aku tak anggap kita memutuskan silatulrahim,
Walau kita menjauh dengan sengaja,
Aku sungguh berharap kepada-Nya kita diberikan pertemuan terbaik
Dan sekarang ini, di dalam kerapuhan kita memilih untuk menyendiri,
Membasuh semua dosa,
Membalut semua luka,
Mencari jejak yang menghilang
Aku ingin agar kita menjadi kuat dulu, lebih kuat dari kita yang dulu
Aku ingin kita menemukan diri kita kembali
Aku ingin kita menjadi kuat untuk dapat memberi cinta
Aku ingin kita menjadi kuat untuk dapat saling memaafkan
Aku ingin agar kita menjadi kuat untuk dapat melihat janji-Nya
Entah rasa ini akan berubah menjadi seperti apa
Tetapi jika kau sungguh mengasihiku,
Kau akan membiarkanku sembuh.
Itulah yang ku ingin kau lakukan,
Dan kau juga, cepatlah sembuh..
Aku akan mencuba untuk tidak berharap kepada kasihmu
Ku tahu kau juga sama
Apalah sangat nilainya rasa yang tidak halal
Apalah sangat makna cinta yang tidak membawa kepada redha-Nya
Aku takut Dia cemburu
Dahulu aku memilihmu,
Sekarang aku memohon kepada-Nya untuk memilihkanku
Sungguh aku akan kembali
Kembali untuk melukis pelangi
Kembali membawa sejuta rasa yang hilang
Walau aku takkan pernah mampu untuk menjanjikan,
Kalau aku kembali untukmu.
Kau juga, cepatlah kembali
Dan ketika kembali nanti, semoga dunia akan bisa melihat senyummu lagi..
Thursday, December 15, 2011
Jadikanlah aku seperti yang kau inginkan
Sebatang buluh yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang buluh ini tumbuh tinggi menjulang melebihi batang-batang buluh lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon buluh itu, lalu berkata kepada batang buluh, "Wahai buluh, mahukah engkau kupakai untuk menjadi paip saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?"
Batang buluh menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau,
Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi paip saluran air itu."
Lalu sang petani pun menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi paip yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur."
Mendengar hal ini, batang buluh lama terdiam......
....
kemudian dia berkata kepada petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku.
Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih
sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak
tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?"
Petani menjawab persoalan batang buluh itu, " Wahai buluh, engkau pasti kuat melalui semua itu, karena aku memilihmu justeru kerana engkaulah yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah."
Akhirnya batang buluh itu menyerah, "Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna
bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki."
Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang buluh indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi paip saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.
Pernahkah kita berfikir bahawa dengan masalah yang datang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-NYA? Sama seperti batang buluh itu, kita sedang ditempa, ALLAH sedang membuat kita sempurna untuk dipakai menjadi penyalur berkat. DIA sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-NYA. Tapi jangan khuatir, kita pasti kuat karena ALLAH tak akan memberikan beban yang tak
mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak ALLAH, membiarkan DIA bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-NYA?
Seperti batang buluh itu, mari kita berkata, " Ini aku ya ALLAH, perbuatlah sesuai
dengan yang KAU kehendaki."
"semoga Allah memberkahi setiap langkah kita"
Di adaptasi dari: echo budi
Batang buluh menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau,
Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi paip saluran air itu."
Lalu sang petani pun menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi paip yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur."
Mendengar hal ini, batang buluh lama terdiam......
....
kemudian dia berkata kepada petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku.
Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih
sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak
tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?"
Petani menjawab persoalan batang buluh itu, " Wahai buluh, engkau pasti kuat melalui semua itu, karena aku memilihmu justeru kerana engkaulah yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah."
Akhirnya batang buluh itu menyerah, "Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna
bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki."
Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang buluh indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi paip saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.
Pernahkah kita berfikir bahawa dengan masalah yang datang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-NYA? Sama seperti batang buluh itu, kita sedang ditempa, ALLAH sedang membuat kita sempurna untuk dipakai menjadi penyalur berkat. DIA sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-NYA. Tapi jangan khuatir, kita pasti kuat karena ALLAH tak akan memberikan beban yang tak
mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak ALLAH, membiarkan DIA bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-NYA?
Seperti batang buluh itu, mari kita berkata, " Ini aku ya ALLAH, perbuatlah sesuai
dengan yang KAU kehendaki."
"semoga Allah memberkahi setiap langkah kita"
Di adaptasi dari: echo budi
Sunday, December 11, 2011
Your Shipwreck
The only survivor of a shipwreck was washed up on a small, uninhabited island. He prayed feverishly for Allah subhanahu wa ta’ala to rescue him, and every day he scanned the horizon for help, but none seemed forthcoming.
Exhausted, he eventually managed to build a little hut out of driftwood to protect him from the elements and to store his few possessions.
But then one day, after scavenging for food, he arrived home to find his little hut in flames, the smoke rolling up to the sky. The worst had happened; everything was lost! He was stunned with grief and anger.
“Allah subhanahu wa ta’ala, how could you do this to me!” he cried.
Early the next day, however, he was awakened by the sound of a ship that was approaching the island. It had come to rescue him.
“How did you know I was here?” asked the weary man of his rescuers.
“We saw your smoke signal,” they replied.
It is easy to get discouraged when things are going badly. But we shouldn’t lose heart, because Allah subhanahu wa ta’ala is at work in our lives, even in the midst of pain and suffering.
Remember, next time your little hut is burning to the ground, it just may be a smoke signal that summons the grace of Allah subhanahu wa ta’ala.
- Healing Hearts
Exhausted, he eventually managed to build a little hut out of driftwood to protect him from the elements and to store his few possessions.
But then one day, after scavenging for food, he arrived home to find his little hut in flames, the smoke rolling up to the sky. The worst had happened; everything was lost! He was stunned with grief and anger.
“Allah subhanahu wa ta’ala, how could you do this to me!” he cried.
Early the next day, however, he was awakened by the sound of a ship that was approaching the island. It had come to rescue him.
“How did you know I was here?” asked the weary man of his rescuers.
“We saw your smoke signal,” they replied.
It is easy to get discouraged when things are going badly. But we shouldn’t lose heart, because Allah subhanahu wa ta’ala is at work in our lives, even in the midst of pain and suffering.
Remember, next time your little hut is burning to the ground, it just may be a smoke signal that summons the grace of Allah subhanahu wa ta’ala.
- Healing Hearts
Labels:
hikmah
Friday, December 2, 2011
Lets let it go
When I was younger, I used to have these unpleasant dreams, quite frequently I'd say. Dreams in which I saw faces of the persons whom I loved, crying, because I am not like what they expected. They cried, because I failed to fulfill their hopes. They cried, and it hurts. It hurts because I know they cared for and loved me too, at least back then. And waking up from those dreams were often accompanied with a strange feeling, and trickling tears. I guess that was one of my drive to work hard back then.
After Hijrah, I promised that I will never be sad nor shall I cry for this world again. Thought it won't be that difficult. But things sure are getting hard these days. Alhamdulillah, He was always there for me, and I know that He always will. Why does it pains others when I'm not that kind? Or I'm not that patient? Or simply because I'm not like what they think? Its just doesn't matter anymore. As I complained to Allah about my problems with people's expectation, suddenly I realised that His expectations of me are what I should be more worried about.
"And I did not create the jinn and mankind except to worship Me." [ad-Dzariyaat, 51:56]
Allah loved us more than anything does in this world, He gave us everything so that we can serve our purposes and live well here in this world, and especially the hereafter. Yet all our lives, what we've been doing? And all these hearts that Allah lent us, did we used them to love Him back?
So listen dear self, and listen well. Here in this world, as long as you're a true believer, then there's no need for you to be sad. At times, you will be hammered with pressures, but you will make it through as a stronger steel, insya'Allah.
"So do not weaken and do not grieve, and you will be superior if you are [true] believers." [Ali Imran, 3:139]
After Hijrah, I promised that I will never be sad nor shall I cry for this world again. Thought it won't be that difficult. But things sure are getting hard these days. Alhamdulillah, He was always there for me, and I know that He always will. Why does it pains others when I'm not that kind? Or I'm not that patient? Or simply because I'm not like what they think? Its just doesn't matter anymore. As I complained to Allah about my problems with people's expectation, suddenly I realised that His expectations of me are what I should be more worried about.
"And I did not create the jinn and mankind except to worship Me." [ad-Dzariyaat, 51:56]
Allah loved us more than anything does in this world, He gave us everything so that we can serve our purposes and live well here in this world, and especially the hereafter. Yet all our lives, what we've been doing? And all these hearts that Allah lent us, did we used them to love Him back?
So listen dear self, and listen well. Here in this world, as long as you're a true believer, then there's no need for you to be sad. At times, you will be hammered with pressures, but you will make it through as a stronger steel, insya'Allah.
"So do not weaken and do not grieve, and you will be superior if you are [true] believers." [Ali Imran, 3:139]
Subscribe to:
Posts (Atom)