Once, when i was still in my schooling years, a teacher told us a story, a real story he said. We listened quietly to the plot, but soon, we forgot.
It was only after a few years later that the story struck my memory, after I experienced exactly the same situation like what he told us. At that time, I was still doing my bachelors' degree course at UBD.
The story began as I was sitting at a car wash, waiting for my car. I realised that the worker kept on looking at me, so I smiled.
'You know, my classroom was next to yours,' he said.
Then we chatted for a while, and later I learnt that he was kicked from school back then because his friends hid their cigars inside his bag several times. Or so he said. With expression full of regret he wished that he chose the right friends, within the good circle of friends, not the oppossite, and how envious he was to me and many other friends who managed get good jobs and future. Then he ended his words with the tittle my teacher gave to his story, 'What could have been...?' And I remained silent.
***
Now towards my 23th years of living, the story struck me again. Alhamdulillah, He made us take the right decissions. We did took some wrong steps, and we suffered for that. But then again, everything was already written.
“Behind every trial and sorrow that He makes us shoulder, [Allah] has a reason.” ~ Khaled Hosseini
Should I am asked to write all the blessings in disguise that He gave me, I'll just write two words: TOO MANY. Now I realised that all my pain, sorrow, loneliness and failures in the past led me here, to this path. And I can't help but being grateful to all those pains and say, 'Alhamdulillah' and ask myself, what if those things never happened? What could have been if my leg never broke, perhaps I can't enter UBD because I left my documents during the interview. Someting like that.
'When we see a tiger, we can be a person who blames Allah because he created the tiger, or a person who is grateful because He did not give it wings.' And alhamdulillah, he made me the latter =)
Wednesday, November 30, 2011
Saturday, November 26, 2011
'Hijrah' di hatiku
Hari berganti hari, waktu mengalir deras. Maal hijrah datang kembali. Sungguh, masa berlalu dengan pantas. Kini kita berada di bulan Muharam lagi. Alhamdulillah. Salam ma'al hijrah 1433 saya ucapkan.
Perkataan 'hijrah' mempunyai tempat yang sangat istimewa di hatiku. Setahun setengah telah berlalu, terlalu banyak perkara yang telah berlaku. Kadang terasa beban perubahan sangat ganas menyambar, lalu Allah menemukanku dengan kata-kata penawar-Nya. Kadang terasa tanggungjawab sangat berat menghempap di bahu, lalu Allah hantarkan kepadaku insan-insan istimewa berbahu perkasa. Indah sungguh percaturan Allah bukan, Dia tak menjadikan beban itu ringan, tapi Dia beri persaudaraan agar kita lebih kuat. Lagipun, kan Allah ada berfirman:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (Al-Baqarah: 286)
Mana mungkin Allah tipu! :)
Semasa di awal-awal tu banyak juga lah bertemu dengan orang-orang yang mengatakan beratnya menjalankan perintah Allah. Dulu memanglah tak tahu apa-apa. Tapi alhamdulillah, Allah ilhamkan beberapa orang ni untuk membangunkanku. Kamu, walau betapa aneh pun kamu di mataku kerana mengajak diri yang baru belajar berjalan untuk terus berlari, terima kasih, tempat kamu juga istimewa di hatiku. Tapi pokoknya, mengerjakan perintah Allah itu tidaklah menyukarkan, insya'Allah.
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dan dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam al-Qur’an ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sholat, tunaikan zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”
(Al-Hajj: 78)
Enam bulan pertama tu hidup terasa sangat jernih. Dan di sepanjang setahun yang berikutnya (1432H, tahun lepas lah), banyak perkara yang telah berlaku. Pahit atau manis, hidup terasa indah bila tahu segalanya sudah takdir Allah. Allah dah tulis segalanya laaaaamaaaa dah, lama sebelum terciptanya langit dan bumi. Pena telah terangkat, dakwat pun sudah kering. Tapi keputusan untuk mencari hikmah tu tetap ada pada kita.
Kesimpulannya, banyak perkara yang telah berlaku di sepanjang tahun 1432H dan banyak perkara yang telah dipelajari. Angin perubahan bertiup dengan sangat kencang di sepanjangnya. Kadang merasa tidak kenal dengan diri sendiri. Semoga tahun yang mendatang dan umur yang tersisa ini dimanfaatkan untuk meraih redha Allah. Kerana aku yakin Allah akan mengabulkan doa-doa, aku percaya aku masih hidup kerana dua perkara: Sama ada kerana terus hidup adalah lebih baik bagiku atau mati tidak baik bagiku (buat masa ini).
Lalu bagaimana dengan tahun-tahunmu yang telah berlalu?
Perkataan 'hijrah' mempunyai tempat yang sangat istimewa di hatiku. Setahun setengah telah berlalu, terlalu banyak perkara yang telah berlaku. Kadang terasa beban perubahan sangat ganas menyambar, lalu Allah menemukanku dengan kata-kata penawar-Nya. Kadang terasa tanggungjawab sangat berat menghempap di bahu, lalu Allah hantarkan kepadaku insan-insan istimewa berbahu perkasa. Indah sungguh percaturan Allah bukan, Dia tak menjadikan beban itu ringan, tapi Dia beri persaudaraan agar kita lebih kuat. Lagipun, kan Allah ada berfirman:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (Al-Baqarah: 286)
Mana mungkin Allah tipu! :)
Semasa di awal-awal tu banyak juga lah bertemu dengan orang-orang yang mengatakan beratnya menjalankan perintah Allah. Dulu memanglah tak tahu apa-apa. Tapi alhamdulillah, Allah ilhamkan beberapa orang ni untuk membangunkanku. Kamu, walau betapa aneh pun kamu di mataku kerana mengajak diri yang baru belajar berjalan untuk terus berlari, terima kasih, tempat kamu juga istimewa di hatiku. Tapi pokoknya, mengerjakan perintah Allah itu tidaklah menyukarkan, insya'Allah.
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dan dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam al-Qur’an ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sholat, tunaikan zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”
(Al-Hajj: 78)
Enam bulan pertama tu hidup terasa sangat jernih. Dan di sepanjang setahun yang berikutnya (1432H, tahun lepas lah), banyak perkara yang telah berlaku. Pahit atau manis, hidup terasa indah bila tahu segalanya sudah takdir Allah. Allah dah tulis segalanya laaaaamaaaa dah, lama sebelum terciptanya langit dan bumi. Pena telah terangkat, dakwat pun sudah kering. Tapi keputusan untuk mencari hikmah tu tetap ada pada kita.
Kesimpulannya, banyak perkara yang telah berlaku di sepanjang tahun 1432H dan banyak perkara yang telah dipelajari. Angin perubahan bertiup dengan sangat kencang di sepanjangnya. Kadang merasa tidak kenal dengan diri sendiri. Semoga tahun yang mendatang dan umur yang tersisa ini dimanfaatkan untuk meraih redha Allah. Kerana aku yakin Allah akan mengabulkan doa-doa, aku percaya aku masih hidup kerana dua perkara: Sama ada kerana terus hidup adalah lebih baik bagiku atau mati tidak baik bagiku (buat masa ini).
Lalu bagaimana dengan tahun-tahunmu yang telah berlalu?
Friday, November 25, 2011
Hakikat Cinta Seorang Pencinta
Meningkat umur diperjalanan ini, semakin dewasa pemikiran dan perasaan. Sungguh, kehadiran cinta menggetarkan jiwa dan rasa. Tanpa perlu belajar, tidak perlu merujuk nota…hadirnya tidak di undang, tetap melawat dan mendiam di hati insan.
Manusia sering menyebut tentang cinta pada hamba-hambaNya. Ternyata kita sering lupa hakikat cinta sebenar hanya untukNya. Rindu dan kasih sayang anugerahNya untuk kita belajar mencintaNya melebihi segalanya. Allah tidak pernah melarang hambaNya berkasih sayang. Justeru, rasa cinta itu sendiri adalah takdirNya.
Maha Mengetahuinya Dia akan hati hambaNya. Setiap jiwa memiliki perasaan untuk dicintai dan mencinta, maka Dia menyediakan jalan yang terbaik untuk hambaNya. Berkahwinlah keranaNya, mencintailah keranaNya, bertemu dan berpisah jua keranaNya,hanya untukNya. Terlalu sayangnya Dia pada hambaNya, sentiasa memberikan kita jalan yg terindah. Dia mengetahui fitrah yang membalut setiap manusia. Namun, berapa ramai yg menghayati anugerahNya. Cinta nafsu yang memerangkap jiwa remaja, padahal telah Allah memberikan peringatan demi peringatan, namun teruna dan dara terus terbelit dan terkandas dalam cinta yang dianggap indah namun rupanya bersulam nafsu semata-mata.
“ Cinta yang membuah ranum di dasar hati,
Menciptakan kemanisan pada jiwa setiap insan yang merasa,
Namun tanpa baja..tanpa dijaga,
Akar yang kukuh juga bisa rapuh,
Andai batang yang tebal jua menyembah bumi,
Manakan ranting dan dahan ingin berpaut,
Andaikan bunga yang indah berguguran sblm kembang,
Manakan buah hendak masak memerah”
Bagitulah halnya tentang cinta ini, andai perasaan yang terpendam diresipikan nafsu bukannya iman, rosaklah perasaan, tumbuhnya sekadar mngundang serangga perosak. Buahnya meranum namun rasanya pahit. Akhirnya dibiar mati tidak dipeduli.
Sabda Rasulullah saw:
“Bahawasanya di dalam jasad anak Adam ada seketul daging. Apabila baik daging itu, baiklah seluruh anggotanya. Sebaliknya, jika jahat daging itu, jahatlah seluruh anggotanya. Ketahuilah daging itu ialah hati.”
Riwayat Al-Bukhari
Jangan menghantar hatimu menuju kehancuran, kerana terlalu cintakan dunia dan manusia, akan memakan jiwa. Manakan bisa seorang hamba mengharap pada hamba yang lain, sedangkan hamba yang lain jua mengharap pada Pencipta yang satu. Sekeping hati yang dimiliki setiap jasad ini boleh berubah bila-bila masa sahaja kehendak dan kemahuannya. Sungguh rapuh.
Hari ini berbicara cinta, hari esok tiada rasa. Hari ini, berjanji setia..hari esok tiada suara. Hari ini dia milikmu, hari ini esok belum tentu. Siapa kita untuk mengatur sekeping hati, mengatur jalan kaki sendiri ke arah yang benar pun ramai yang tidak pasti.
Semua orang ingin dicintai, tambahan pula bila dicintai oleh insan yang mereka cintai. Apabila cinta tidak kesampaian, ramai yang merajuk hati hingga ada insan yang lebih memilih mati hanya kerana disingkir cinta. Alangkah ruginya titisan air mata dilepaskan untuk cinta manusia yang hidupnya hanya sementara.
Sedangkan tidak ramai yang sanggup bergenang air mata menghayati anugerah Dia. Tidak banyak pula yang mensyukuri nikmatNya. Berapa ramai yang sedar bahawa takdirnya adalah terbaik untuk setiap hambaNya. Percayalah bahawasanya Dia lebih mengenali hati hambaNya. Masakan Allah yang maha Penyayang bersikap zalim. Dia maha mengetahui segala sesuatu baik yang nyata mahupun tersembunyi.
“ Mencintai tidak bererti memiliki..
Siapa berhak melunakkan skeping hati selain Dia,
Mencintai seseorang bermakna kamu perlu bersedia menerima,
Segala kesudahan rasa,
Mencintailah keranaNya dan kamu akan merasai lazatnya cinta,
Tiada jiwa terluka..tiada hati tersiksa,
Kerana insan percaya, takdirNya terindah dari segala peristiwa,
Kerana kita percaya, Dia menentukan segalanya.
Jodohnya manusia ada ditangannya.
Saudaraku tercinta,
Andai kehendak hati terhenti,
Percayalah, Dia sedang mengaturkan sesuatu yang lebih baik lagi,
Cinta yang membuatkan mu tidak lena,
Menjadikan harimu terganggu setiap masa,
Bukannya itu cinta yang diharapkan,
Itu hanya perasaan yang hanya mengundang tekanan,
Cinta sesungguhnya apabila kamu mencinta keranaNya,
Redha dengan takdirNya,
Menerima suratan dengan siapa kamu dipertemukan,
Mensyukuri pertemuan jodohmu walau bukan dengan insan idaman,
Asalkan si dia mencintai Tuhan,
Kita kan terus mencintainya tanpa alasan.
Mengapa dicari secantik Balqis, andai diri tidak sehebat Sulaiman..Mengapa mengharap teman setampan Yusof jika kasih tidak setulus Zulaikha..Mengapa mengharap teman seteguh Ibrahim andai diri tidak sehebat Siti Hajar..Mengapa didambakan teman sehidup yang sempurna Muhammad jika ada keburukan pada diri sendiri..Bimbinglah dirinya dan terimalah kekurangan itu sebagai keunikan..Carilah kebaikan itu pada dirinya. Bersyukurlah kerana dipertemukan dengannya dan berdoalah dia milikmu…
“Aku mencintaimu kerana AGAMA yang ada padamu, Jika kau hilangkan AGAMA dalam dirimu, hilanglah CINTAku padamu..” (Imam Nawawi )
Saudaraku tersayang,
Orang yang wujud dihatinya akan suatu rasa mencintai Allah melebihi segala apa yang ada di langit dan dibumi, nescaya tiada duka buatnya. Allah akan memenuhi rindu dihatinya, tiada lagi rindunya buat duniawi yang akan binasa. Seseorang pecinta akan selalu berfikir dan menyebut insan yang dicintai, ibaratnya tak mati di hati, tak lekang di bibir. Demikian jualah cinta untuk Illahi, persiapkan lisan untuk selalu menyebut indah namaNya, sediakan hati untuk selalu mengingatiNya, dan jadilah insan yang paling bahagia dalam redaNya.
Hadis Qudsi:
Allah swt berfirman: “Aku menurut sangkaan hamba kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila dia ingat kepada-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dan dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dalam kelompoknya maka Aku akan mengingatnya dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil.” (Sahih Bukhari)
Amin.
Maklumat Peserta:
Nama : Iffa-izzati Binti Hamid
Blog : http://www.nurheart-hatiseorangaku.blogspot.com/
via akuislam.com/blog/contest-aku-islam/hakikat-cinta-seorang-pencinta/
Manusia sering menyebut tentang cinta pada hamba-hambaNya. Ternyata kita sering lupa hakikat cinta sebenar hanya untukNya. Rindu dan kasih sayang anugerahNya untuk kita belajar mencintaNya melebihi segalanya. Allah tidak pernah melarang hambaNya berkasih sayang. Justeru, rasa cinta itu sendiri adalah takdirNya.
Maha Mengetahuinya Dia akan hati hambaNya. Setiap jiwa memiliki perasaan untuk dicintai dan mencinta, maka Dia menyediakan jalan yang terbaik untuk hambaNya. Berkahwinlah keranaNya, mencintailah keranaNya, bertemu dan berpisah jua keranaNya,hanya untukNya. Terlalu sayangnya Dia pada hambaNya, sentiasa memberikan kita jalan yg terindah. Dia mengetahui fitrah yang membalut setiap manusia. Namun, berapa ramai yg menghayati anugerahNya. Cinta nafsu yang memerangkap jiwa remaja, padahal telah Allah memberikan peringatan demi peringatan, namun teruna dan dara terus terbelit dan terkandas dalam cinta yang dianggap indah namun rupanya bersulam nafsu semata-mata.
“ Cinta yang membuah ranum di dasar hati,
Menciptakan kemanisan pada jiwa setiap insan yang merasa,
Namun tanpa baja..tanpa dijaga,
Akar yang kukuh juga bisa rapuh,
Andai batang yang tebal jua menyembah bumi,
Manakan ranting dan dahan ingin berpaut,
Andaikan bunga yang indah berguguran sblm kembang,
Manakan buah hendak masak memerah”
Bagitulah halnya tentang cinta ini, andai perasaan yang terpendam diresipikan nafsu bukannya iman, rosaklah perasaan, tumbuhnya sekadar mngundang serangga perosak. Buahnya meranum namun rasanya pahit. Akhirnya dibiar mati tidak dipeduli.
Sabda Rasulullah saw:
“Bahawasanya di dalam jasad anak Adam ada seketul daging. Apabila baik daging itu, baiklah seluruh anggotanya. Sebaliknya, jika jahat daging itu, jahatlah seluruh anggotanya. Ketahuilah daging itu ialah hati.”
Riwayat Al-Bukhari
Jangan menghantar hatimu menuju kehancuran, kerana terlalu cintakan dunia dan manusia, akan memakan jiwa. Manakan bisa seorang hamba mengharap pada hamba yang lain, sedangkan hamba yang lain jua mengharap pada Pencipta yang satu. Sekeping hati yang dimiliki setiap jasad ini boleh berubah bila-bila masa sahaja kehendak dan kemahuannya. Sungguh rapuh.
Hari ini berbicara cinta, hari esok tiada rasa. Hari ini, berjanji setia..hari esok tiada suara. Hari ini dia milikmu, hari ini esok belum tentu. Siapa kita untuk mengatur sekeping hati, mengatur jalan kaki sendiri ke arah yang benar pun ramai yang tidak pasti.
Semua orang ingin dicintai, tambahan pula bila dicintai oleh insan yang mereka cintai. Apabila cinta tidak kesampaian, ramai yang merajuk hati hingga ada insan yang lebih memilih mati hanya kerana disingkir cinta. Alangkah ruginya titisan air mata dilepaskan untuk cinta manusia yang hidupnya hanya sementara.
Sedangkan tidak ramai yang sanggup bergenang air mata menghayati anugerah Dia. Tidak banyak pula yang mensyukuri nikmatNya. Berapa ramai yang sedar bahawa takdirnya adalah terbaik untuk setiap hambaNya. Percayalah bahawasanya Dia lebih mengenali hati hambaNya. Masakan Allah yang maha Penyayang bersikap zalim. Dia maha mengetahui segala sesuatu baik yang nyata mahupun tersembunyi.
“ Mencintai tidak bererti memiliki..
Siapa berhak melunakkan skeping hati selain Dia,
Mencintai seseorang bermakna kamu perlu bersedia menerima,
Segala kesudahan rasa,
Mencintailah keranaNya dan kamu akan merasai lazatnya cinta,
Tiada jiwa terluka..tiada hati tersiksa,
Kerana insan percaya, takdirNya terindah dari segala peristiwa,
Kerana kita percaya, Dia menentukan segalanya.
Jodohnya manusia ada ditangannya.
Saudaraku tercinta,
Andai kehendak hati terhenti,
Percayalah, Dia sedang mengaturkan sesuatu yang lebih baik lagi,
Cinta yang membuatkan mu tidak lena,
Menjadikan harimu terganggu setiap masa,
Bukannya itu cinta yang diharapkan,
Itu hanya perasaan yang hanya mengundang tekanan,
Cinta sesungguhnya apabila kamu mencinta keranaNya,
Redha dengan takdirNya,
Menerima suratan dengan siapa kamu dipertemukan,
Mensyukuri pertemuan jodohmu walau bukan dengan insan idaman,
Asalkan si dia mencintai Tuhan,
Kita kan terus mencintainya tanpa alasan.
Mengapa dicari secantik Balqis, andai diri tidak sehebat Sulaiman..Mengapa mengharap teman setampan Yusof jika kasih tidak setulus Zulaikha..Mengapa mengharap teman seteguh Ibrahim andai diri tidak sehebat Siti Hajar..Mengapa didambakan teman sehidup yang sempurna Muhammad jika ada keburukan pada diri sendiri..Bimbinglah dirinya dan terimalah kekurangan itu sebagai keunikan..Carilah kebaikan itu pada dirinya. Bersyukurlah kerana dipertemukan dengannya dan berdoalah dia milikmu…
“Aku mencintaimu kerana AGAMA yang ada padamu, Jika kau hilangkan AGAMA dalam dirimu, hilanglah CINTAku padamu..” (Imam Nawawi )
Saudaraku tersayang,
Orang yang wujud dihatinya akan suatu rasa mencintai Allah melebihi segala apa yang ada di langit dan dibumi, nescaya tiada duka buatnya. Allah akan memenuhi rindu dihatinya, tiada lagi rindunya buat duniawi yang akan binasa. Seseorang pecinta akan selalu berfikir dan menyebut insan yang dicintai, ibaratnya tak mati di hati, tak lekang di bibir. Demikian jualah cinta untuk Illahi, persiapkan lisan untuk selalu menyebut indah namaNya, sediakan hati untuk selalu mengingatiNya, dan jadilah insan yang paling bahagia dalam redaNya.
Hadis Qudsi:
Allah swt berfirman: “Aku menurut sangkaan hamba kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila dia ingat kepada-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dan dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dalam kelompoknya maka Aku akan mengingatnya dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil.” (Sahih Bukhari)
Amin.
Maklumat Peserta:
Nama : Iffa-izzati Binti Hamid
Blog : http://www.nurheart-hatiseorangaku.blogspot.com/
via akuislam.com/blog/contest-aku-islam/hakikat-cinta-seorang-pencinta/
Friday, November 18, 2011
Kerana kita pengembara
Di dalam hidup ini kita adalah pengembara yang singgah sebentar untuk berteduh di pepohonan dunia. Dan apabila tiba waktunya untuk meneruskan perjalanan, tiadalah mampu untuk kita awalkan atau lambatkan barang sedetik. Dunia adalah persinggahan.
Berteduhnya kita di bawah bayang-bayang dunia ini adalah tidak lain untuk mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal untuk perjalanan yang lebih panjang, satu kehidupan yang kekal. Semua orang tahu itu.
Tapi.. apa yang orang ramai tak tahu, wahai diri, di kalangan pengembara itu ada orang-orang yang benar-benar rindu supaya cepat sampai ke tujuan agar dapat bertemu dengan Sang Pencipta. Dan pada masa yang sama merasa sangat takut dan risau, bimbang jika diri tak layak untuk bertemu dengan kekasih hati. Memang takkan pernah layak pun, melainkan dengan rahmat-Nya jua.
Dan di kalangan para pengembara, ada hati-hati yang berjanji setia untuk mendaulat dan menyokong syariat-Nya, yang berharap apabila tiba saat untuk bertemu dengan Rasul tercinta (saw), maka nampaklah senyumnya.. Kita adalah sebahagian daripada mereka, insya'Allah.
Jadi tetaplah tabah.. Kembara kehidupan kita berbeza. Pengembaraan kita bersulamkan pengorbanan dan memang begitulah adat insan dalam perjuangan. Selagi kita masih melangkah di jalan ini, selamanya kita akan merasakan kepahitan di dunia. Tetapi ketahuilah, itu adalah kerana syurga itu manis. Dan tujuan kita bukanlah dunia. Masih ingat lagi bukan, jalan yang baginda Rasulullah (saw) lalui juga bukanlah jalan yang ditaburi dengan bunga-bunga, malah lorong yang panjang penuh onak dan duri.
"Sesungguhnya Allah membeli daripada orang yang beriman akan jiwa mereka dan harta mereka dengan (balasan) mereka akan beroleh syurga disebabkan mereka berjuang pada jalan Allah" (at-Taubah: 111)
Semoga Allah tetapkan kembara kita di atas landasan yang lurus. Aamiin.
Dan teruslah menyinari dari tampuk perjuangan.
Al-faqir ila Allah,
Samira Razin
Berteduhnya kita di bawah bayang-bayang dunia ini adalah tidak lain untuk mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal untuk perjalanan yang lebih panjang, satu kehidupan yang kekal. Semua orang tahu itu.
Tapi.. apa yang orang ramai tak tahu, wahai diri, di kalangan pengembara itu ada orang-orang yang benar-benar rindu supaya cepat sampai ke tujuan agar dapat bertemu dengan Sang Pencipta. Dan pada masa yang sama merasa sangat takut dan risau, bimbang jika diri tak layak untuk bertemu dengan kekasih hati. Memang takkan pernah layak pun, melainkan dengan rahmat-Nya jua.
Dan di kalangan para pengembara, ada hati-hati yang berjanji setia untuk mendaulat dan menyokong syariat-Nya, yang berharap apabila tiba saat untuk bertemu dengan Rasul tercinta (saw), maka nampaklah senyumnya.. Kita adalah sebahagian daripada mereka, insya'Allah.
Jadi tetaplah tabah.. Kembara kehidupan kita berbeza. Pengembaraan kita bersulamkan pengorbanan dan memang begitulah adat insan dalam perjuangan. Selagi kita masih melangkah di jalan ini, selamanya kita akan merasakan kepahitan di dunia. Tetapi ketahuilah, itu adalah kerana syurga itu manis. Dan tujuan kita bukanlah dunia. Masih ingat lagi bukan, jalan yang baginda Rasulullah (saw) lalui juga bukanlah jalan yang ditaburi dengan bunga-bunga, malah lorong yang panjang penuh onak dan duri.
"Sesungguhnya Allah membeli daripada orang yang beriman akan jiwa mereka dan harta mereka dengan (balasan) mereka akan beroleh syurga disebabkan mereka berjuang pada jalan Allah" (at-Taubah: 111)
Semoga Allah tetapkan kembara kita di atas landasan yang lurus. Aamiin.
Dan teruslah menyinari dari tampuk perjuangan.
Al-faqir ila Allah,
Samira Razin
Labels:
iWrite
Friday, November 4, 2011
Tolong ingatkan aku akan hikmah perpisahan
Pertemuan menghadiahkan kita kasih sayang
Jika cinta satu pasti bertemu ia tidak ternilai
Kerana antara hati kita
Telah tiada antaranya lagi
Yang ada hanya cinta kasih Ilahi
Kita berpisah hanya sementara
Kerana pertemuan bukan milik kita
Jasad dan suara berjauhan sentiasa
Namun cinta abadi
Biar terpisah selalu menderita
Kerana syurga menagih ujian
Sedang neraka dipagari oleh nikmat
Bertemu tidak jemu berpisah tak gelisah
Bicara kita adalah bicara sufi
Tanpa suara dan kata-kata
Kerana penghubung kita adalah suara hati
Bertemu berpisah kerana Allah
Suara Hati - Pertemuan Bukan Milik Kita
Kita selalu beranggapan bahawa perpisahan itu selalu sahaja membawa kepada kesedihan, keperitan, kesengsaraan dan sebagainya. Ya memanglah. Tapi... ada masanya perpisahan juga merupakan jalan keluar bagi masalah, atau pemicu kepada sesuatu yang tidak terbayangkan oleh kita.
Cuma saja, mata kita memang selalu gagal untuk melihat hikmah di setiap kejadian yang umpama jarum di dalam rimbunan jerami. Sukar dan sulit, tetapi ada. Bukankah kita selalu lupa bahawa tiada ribut taufan yang abadi?
Ya, bahkan kita juga lupa bahawa segala-galanya sudah ditentukan oleh Allah, terpahat di Lauh Mahfuz. Pernahkah kita memikirkan tentangnya? Bahawa setiap kejadian itu ada hikmahnya? Begitu juga dengan pertemuan. Kita bertemu, walau sesaat, adalah merupakan percaturan Allah. Begitu juga dengan perpisahan. Alhamdulillah, bersyukur sangat kerana akhirnya diberi kesedaran akan sebab pertemuan. Kita bertemu.. adalah untuk menyampaikan risalah Allah, berukhuwah dan mengajak kepada perkara yang baik-baik sesuai dengan tanggungjawab kita selaku umat Nabi Muhammad s.a.w. Meski nampak terlewat, tetapi kenyataannya ia sempurna.
Lalu kita kena akur, di setiap pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Pahit memang. Tetapi dengan memisahkan kita-lah Allah menjaga hati kita dari sesuatu yang tidak halal buat kita, dan yang mungkin takkan pernah halal pun. Dengan perpisahan juga Allah menemukan kita dengan kejadian atau insan lain supaya kita dapat belajar daripada mereka. Namun pada tahap kita, perpisahan adalah langkah yang mesti, perpisahan kita adalah atas dasar perjuangan, sehingga pada akhirnya kita dipertemukan lagi di alam yang kekal, sehingga takkan ada lagi perpisahan selama-lamanya. Kita berpisah adalah untuk meneruskan perjuangan yang panjang, di medan yang lain. Lupakah kita kepada musibah teragung, perpisahan dengan Rasulullah s.a.w? Yang bertitik dari perpisahan itu, bertebaranlah para sahabat ke seluruh alam. Allahua'lam.
Amar - Cebisan Kenangan
ukhwah yang terbina persis sekuntum bunga
meski pun kini kita terpisah demi kasih-Nya
namun cebisan kenangan kita
sentiasa bermain di bayangan mata
detik waktu yg berlalu
menjadi memori kau dan aku
sewaktu kita bersama saling setia menimba ilmu
tanpa mengeal erti penat jemu
ingatkah kau lagi
kita bersama memijak onak duri
ditanah gersang mengutip semangat suci
kini segalanya tersurat dalam sanubari
bersabarlah dengan ketetentuan-Nya
ada rahmat yg tersembunyi
bertemu berpisah kerana Allah
lumrah kehidupan insan beriman
moga saat nan indah
ku harap berulang lagi
Semoga pertemuan telah menjadikan kita benih yang subur, yang apabila tiba waktu untuk berpisah, dilemparkan oleh takdir ke tengah lautan sekali pun, akan tetap tumbuh menjadi sebuah pulau. Semoga kita tetap thabat di jalan ini.
Jika cinta satu pasti bertemu ia tidak ternilai
Kerana antara hati kita
Telah tiada antaranya lagi
Yang ada hanya cinta kasih Ilahi
Kita berpisah hanya sementara
Kerana pertemuan bukan milik kita
Jasad dan suara berjauhan sentiasa
Namun cinta abadi
Biar terpisah selalu menderita
Kerana syurga menagih ujian
Sedang neraka dipagari oleh nikmat
Bertemu tidak jemu berpisah tak gelisah
Bicara kita adalah bicara sufi
Tanpa suara dan kata-kata
Kerana penghubung kita adalah suara hati
Bertemu berpisah kerana Allah
Suara Hati - Pertemuan Bukan Milik Kita
Kita selalu beranggapan bahawa perpisahan itu selalu sahaja membawa kepada kesedihan, keperitan, kesengsaraan dan sebagainya. Ya memanglah. Tapi... ada masanya perpisahan juga merupakan jalan keluar bagi masalah, atau pemicu kepada sesuatu yang tidak terbayangkan oleh kita.
Cuma saja, mata kita memang selalu gagal untuk melihat hikmah di setiap kejadian yang umpama jarum di dalam rimbunan jerami. Sukar dan sulit, tetapi ada. Bukankah kita selalu lupa bahawa tiada ribut taufan yang abadi?
Ya, bahkan kita juga lupa bahawa segala-galanya sudah ditentukan oleh Allah, terpahat di Lauh Mahfuz. Pernahkah kita memikirkan tentangnya? Bahawa setiap kejadian itu ada hikmahnya? Begitu juga dengan pertemuan. Kita bertemu, walau sesaat, adalah merupakan percaturan Allah. Begitu juga dengan perpisahan. Alhamdulillah, bersyukur sangat kerana akhirnya diberi kesedaran akan sebab pertemuan. Kita bertemu.. adalah untuk menyampaikan risalah Allah, berukhuwah dan mengajak kepada perkara yang baik-baik sesuai dengan tanggungjawab kita selaku umat Nabi Muhammad s.a.w. Meski nampak terlewat, tetapi kenyataannya ia sempurna.
Lalu kita kena akur, di setiap pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Pahit memang. Tetapi dengan memisahkan kita-lah Allah menjaga hati kita dari sesuatu yang tidak halal buat kita, dan yang mungkin takkan pernah halal pun. Dengan perpisahan juga Allah menemukan kita dengan kejadian atau insan lain supaya kita dapat belajar daripada mereka. Namun pada tahap kita, perpisahan adalah langkah yang mesti, perpisahan kita adalah atas dasar perjuangan, sehingga pada akhirnya kita dipertemukan lagi di alam yang kekal, sehingga takkan ada lagi perpisahan selama-lamanya. Kita berpisah adalah untuk meneruskan perjuangan yang panjang, di medan yang lain. Lupakah kita kepada musibah teragung, perpisahan dengan Rasulullah s.a.w? Yang bertitik dari perpisahan itu, bertebaranlah para sahabat ke seluruh alam. Allahua'lam.
Amar - Cebisan Kenangan
ukhwah yang terbina persis sekuntum bunga
meski pun kini kita terpisah demi kasih-Nya
namun cebisan kenangan kita
sentiasa bermain di bayangan mata
detik waktu yg berlalu
menjadi memori kau dan aku
sewaktu kita bersama saling setia menimba ilmu
tanpa mengeal erti penat jemu
ingatkah kau lagi
kita bersama memijak onak duri
ditanah gersang mengutip semangat suci
kini segalanya tersurat dalam sanubari
bersabarlah dengan ketetentuan-Nya
ada rahmat yg tersembunyi
bertemu berpisah kerana Allah
lumrah kehidupan insan beriman
moga saat nan indah
ku harap berulang lagi
Semoga pertemuan telah menjadikan kita benih yang subur, yang apabila tiba waktu untuk berpisah, dilemparkan oleh takdir ke tengah lautan sekali pun, akan tetap tumbuh menjadi sebuah pulau. Semoga kita tetap thabat di jalan ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)