Saturday, December 31, 2011

Only last year

It was only last year that I was awoken. And things went fast since then, way too fast. Before that day, I never imagined that my hijrah would take place that soon. But alhamdulillah, it did.

It was only last year that I began to learn more about Islam. And everytime I did, I cant help but to fall in love more and more to this Deen.

It was only last year that I begun to feel true love. Allah, your kindness touched me.. I who once got nothing, You gave me Islam, and with Islam you gave me everything that I've never imagined. Thank You Allah.

It was only last year that I begun to miss someone to tears. Rasulullah, great is my hope to see you.. To thank you.. I wonder how do you look. I wonder how does it feel to meet you. And I'm scared that I'm not a worthy ummah for you..

It was only last year that I began to learn al-Quran, and how to recite properly. Alhamdulillah, He made it easy for me. I soon fell in love with it too that not even all of my other talents combined together could outweigh this gift.

It was only last year I began to meet great brothers and sisters in Islam, one after another. Learnt a lot in each encounters, then hoping that our paths would cross again in each partings.

And perhaps it was only last year that I first knew you, too.

Since last year, so many things happened. But starting from tomorrow onwards, no longer 'last years' for me. Need to act more as a person who hijrah-ed 'two years ago'.

Friday, December 30, 2011

Ada waktu kita sedih

Ada waktu kita sedih. Sedih itu, sedih ini. Sedih dengan pelbagai perkara. Kematian, kemalangan, kehilangan, cacian dan makian, umpatan orang dan sebagainya.

Ada juga yang sedih dengan rupa parasnya, sedih dengan kejadiannya, sedih mengenangkan nasibnya, sedih dengan cara hidupnya.

Tidak kurang juga yang sedih dengan dirinya yang lemah, keimanannya yang rendah, ibadahnya yang sedikit dan sebagainya.

Ada waktu, memang manusia akan merasakan kesedihan.

Kenapa saya cakap begini?

Entah.


Orang mukmin takkan bersedih lama.

Percayakah anda bahawa orang mukmin tidak akan bersedih lama?

Saya meyakini hal itu. Memanjang-manjangkan kesedihan, bukanlah sebahagian dari ciri seorang mukmin. Hatta Rasulullah SAW sendiri, bersedih hanya seketika. Baik ketika kematian anak-anaknya, mahupun kematian sahabat-sahabat baginda yang tercinta. Bahkan kesedihan itu tidak termuncul saat baginda menderita sakit diseksa, lapar, perang dan sebagainya.

Tetapi sindrom dari kalangan kita adalah, kita suka memanjangkan kesedihan.

Perasankah kita, apabila kita memanjang-manjangkan kesedihan, apakah sebenarnya yang telah ‘kita hilangkan’ dalam kehidupan kita?

Allah SWT.

Ya. Seakan-akan Allah itu tidak wujud, dan membiarkan kita.

Seakan-akan Allah itulah Yang Zalim, dan Dialah yang sengaja membuatkan kita bersedih.

Benarkah?

Apakah bicara Allah berkenaan kesedihan?

Saya suka dengan ayat-ayat ini:

“Kami berfirman: Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-Baqarah ayat 38.

” Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. “ Surah Al-Baqarah ayat 62.

“(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-Baqarah ayat 112.

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-Baqarah ayat 262.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-Baqarah ayat 277.

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” Surah Ali Imran ayat 120.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” Surah Ali Imran ayat 139.

“Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: Kami telah beriman, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah. Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” Surah Al-Maidah ayat 41.

“Katakanlah: Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.” Surah Al-Maidah ayat 68.

“Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-An’am ayat 48.

“(Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah? (Kepada orang mukmin itu dikatakan): Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.” Surah Al-A’raf ayat 49.

Saya tidak tahu apa perasaan kalian apabila membaca semua terjemahan ini.

Tetapi saya, rasa lega.

Rasa tenang.

Rasa damai.

Bila bersama dengan Allah, ikut apa yang Rasulullah ajar, hidup bersungguh-sungguh mengamalkan Islam, ajak manusia lain buat kebaikan, itu semua hakikatnya memadamkan kekhuatiran, kesunyian, kesedihan, ketakutan dan sebagainya.

Betapa selepas membaca ayat-ayat tadi, jelas kepada kita bahawa, kita tidak sepatutnya menjadi manusia yang memanjang-manjangkan kesedihan mereka, terus jatuh dan jatuh ke dalam lohong hitam perasaan mereka.

Kita ada Allah.

Dan kehidupan kita bersamaNya memadamkan segala kenegatifan.

Penutup: Kesedihan adalah keperluan. Tetapi dosnya tidak boleh berlebihan.

Sedih memang baik. Sekali sekala ia melembutkan hati. Tanda jiwa yang sensitif. Tanda hati yang peka.

Tetapi merendam roh kita ke dalam kesedihan terlalu lama akan mereputkannya.

Apakah alasan untuk memanjangkan kesedihan?

Kesedihan tidak akan pernah menjadi penyelesaian kepada sesuatu masalah.

Maka perhatikanlah masalah, bergerak menyelesaikannya.

Jika masalah itu bukan datang dengan penyelesaian, sebagai contoh: Kematian rakan karib, murabbi tercinta, ibu bapa tersayang dan sebagainya, hendaklah tabah dan melangkahlah memandang apa yang masih ada pada kita.

Sesungguhnya seorang mukmin itu tidak sepatutnya bersedih terlalu lama.

Kerana dia ada Allah di sisinya.

Dan kesedihan bukanlah cara seorang hamba Allah mengabdikan diri kepadaNya.

source : http://ms.langitilahi.com/motivasi-ada-waktu-kita-sedih/


JANGAN SEDIH! (^_^)v

Thursday, December 29, 2011

Aku tahu, kerana aku juga sama

Aku tahu kau pernah terluka
Aku tahu kau pernah pula mencinta
Aku tahu kau pernah membangun mimpi
Aku tahu kau pernah tersesat dalam kebingunganmu
Aku tahu kau pernah hampir gila..

Aku tahu kehadiranku membuatmu goyah
Dan tiada terdetik niat di hatiku untuk mengambil kesempatan
Aku tahu, walau kau sudah berlari,
sedikit petanda dariku dapat membuatmu berbalik
Aku tahu lukamu dalam namun 'perasaan itu' ternyata lebih dalam lagi
Ya aku tahu, kerana aku juga sama

Aku faham bila ternyata sukar untuk memaafkanku,
Walau maaf sudah terucap di mulut,
Aku sungguh berharap suatu saat hatimu kan tulus mengampuniku

Dan aku tak anggap kita memutuskan silatulrahim,
Walau kita menjauh dengan sengaja,
Aku sungguh berharap kepada-Nya kita diberikan pertemuan terbaik

Dan sekarang ini, di dalam kerapuhan kita memilih untuk menyendiri,
Membasuh semua dosa,
Membalut semua luka,
Mencari jejak yang menghilang

Aku ingin agar kita menjadi kuat dulu, lebih kuat dari kita yang dulu
Aku ingin kita menemukan diri kita kembali
Aku ingin kita menjadi kuat untuk dapat memberi cinta
Aku ingin kita menjadi kuat untuk dapat saling memaafkan
Aku ingin agar kita menjadi kuat untuk dapat melihat janji-Nya

Entah rasa ini akan berubah menjadi seperti apa
Tetapi jika kau sungguh mengasihiku,
Kau akan membiarkanku sembuh.
Itulah yang ku ingin kau lakukan,
Dan kau juga, cepatlah sembuh..

Aku akan mencuba untuk tidak berharap kepada kasihmu
Ku tahu kau juga sama
Apalah sangat nilainya rasa yang tidak halal
Apalah sangat makna cinta yang tidak membawa kepada redha-Nya
Aku takut Dia cemburu

Dahulu aku memilihmu,
Sekarang aku memohon kepada-Nya untuk memilihkanku

Sungguh aku akan kembali
Kembali untuk melukis pelangi
Kembali membawa sejuta rasa yang hilang
Walau aku takkan pernah mampu untuk menjanjikan,
Kalau aku kembali untukmu.

Kau juga, cepatlah kembali
Dan ketika kembali nanti, semoga dunia akan bisa melihat senyummu lagi..

Thursday, December 15, 2011

Jadikanlah aku seperti yang kau inginkan

Sebatang buluh yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang buluh ini tumbuh tinggi menjulang melebihi batang-batang buluh lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon buluh itu, lalu berkata kepada batang buluh, "Wahai buluh, mahukah engkau kupakai untuk menjadi paip saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?"

Batang buluh menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau,
Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi paip saluran air itu."

Lalu sang petani pun menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi paip yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur."

Mendengar hal ini, batang buluh lama terdiam......

....

kemudian dia berkata kepada petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku.
Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih
sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak
tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?"

Petani menjawab persoalan batang buluh itu, " Wahai buluh, engkau pasti kuat melalui semua itu, karena aku memilihmu justeru kerana engkaulah yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah."

Akhirnya batang buluh itu menyerah, "Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna
bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki."

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang buluh indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi paip saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

Pernahkah kita berfikir bahawa dengan masalah yang datang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-NYA? Sama seperti batang buluh itu, kita sedang ditempa, ALLAH sedang membuat kita sempurna untuk dipakai menjadi penyalur berkat. DIA sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-NYA. Tapi jangan khuatir, kita pasti kuat karena ALLAH tak akan memberikan beban yang tak
mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak ALLAH, membiarkan DIA bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-NYA?

Seperti batang buluh itu, mari kita berkata, " Ini aku ya ALLAH, perbuatlah sesuai
dengan yang KAU kehendaki."

"semoga Allah memberkahi setiap langkah kita"

Di adaptasi dari: echo budi

Sunday, December 11, 2011

Your Shipwreck

The only survivor of a shipwreck was washed up on a small, uninhabited island. He prayed feverishly for Allah subhanahu wa ta’ala to rescue him, and every day he scanned the horizon for help, but none seemed forthcoming.

Exhausted, he eventually managed to build a little hut out of driftwood to protect him from the elements and to store his few possessions.

But then one day, after scavenging for food, he arrived home to find his little hut in flames, the smoke rolling up to the sky. The worst had happened; everything was lost! He was stunned with grief and anger.

“Allah subhanahu wa ta’ala, how could you do this to me!”
he cried.

Early the next day, however, he was awakened by the sound of a ship that was approaching the island. It had come to rescue him.

“How did you know I was here?”
asked the weary man of his rescuers.

“We saw your smoke signal,”
they replied.

It is easy to get discouraged when things are going badly. But we shouldn’t lose heart, because Allah subhanahu wa ta’ala is at work in our lives, even in the midst of pain and suffering.

Remember, next time your little hut is burning to the ground, it just may be a smoke signal that summons the grace of Allah subhanahu wa ta’ala.

- Healing Hearts

Friday, December 2, 2011

Lets let it go

When I was younger, I used to have these unpleasant dreams, quite frequently I'd say. Dreams in which I saw faces of the persons whom I loved, crying, because I am not like what they expected. They cried, because I failed to fulfill their hopes. They cried, and it hurts. It hurts because I know they cared for and loved me too, at least back then. And waking up from those dreams were often accompanied with a strange feeling, and trickling tears. I guess that was one of my drive to work hard back then.

After Hijrah, I promised that I will never be sad nor shall I cry for this world again. Thought it won't be that difficult. But things sure are getting hard these days. Alhamdulillah, He was always there for me, and I know that He always will. Why does it pains others when I'm not that kind? Or I'm not that patient? Or simply because I'm not like what they think? Its just doesn't matter anymore. As I complained to Allah about my problems with people's expectation, suddenly I realised that His expectations of me are what I should be more worried about.

"And I did not create the jinn and mankind except to worship Me." [ad-Dzariyaat, 51:56]

Allah loved us more than anything does in this world, He gave us everything so that we can serve our purposes and live well here in this world, and especially the hereafter. Yet all our lives, what we've been doing? And all these hearts that Allah lent us, did we used them to love Him back?

So listen dear self, and listen well. Here in this world, as long as you're a true believer, then there's no need for you to be sad. At times, you will be hammered with pressures, but you will make it through as a stronger steel, insya'Allah.


"So do not weaken and do not grieve, and you will be superior if you are [true] believers." [Ali Imran, 3:139]

Wednesday, November 30, 2011

'What could have been..'

Once, when i was still in my schooling years, a teacher told us a story, a real story he said. We listened quietly to the plot, but soon, we forgot.

It was only after a few years later that the story struck my memory, after I experienced exactly the same situation like what he told us. At that time, I was still doing my bachelors' degree course at UBD.

The story began as I was sitting at a car wash, waiting for my car. I realised that the worker kept on looking at me, so I smiled.

'You know, my classroom was next to yours,' he said.

Then we chatted for a while, and later I learnt that he was kicked from school back then because his friends hid their cigars inside his bag several times. Or so he said. With expression full of regret he wished that he chose the right friends, within the good circle of friends, not the oppossite, and how envious he was to me and many other friends who managed get good jobs and future. Then he ended his words with the tittle my teacher gave to his story, 'What could have been...?' And I remained silent.

***

Now towards my 23th years of living, the story struck me again. Alhamdulillah, He made us take the right decissions. We did took some wrong steps, and we suffered for that. But then again, everything was already written.

“Behind every trial and sorrow that He makes us shoulder, [Allah] has a reason.” ~ Khaled Hosseini

Should I am asked to write all the blessings in disguise that He gave me, I'll just write two words: TOO MANY. Now I realised that all my pain, sorrow, loneliness and failures in the past led me here, to this path. And I can't help but being grateful to all those pains and say, 'Alhamdulillah' and ask myself, what if those things never happened? What could have been if my leg never broke, perhaps I can't enter UBD because I left my documents during the interview. Someting like that.

'When we see a tiger, we can be a person who blames Allah because he created the tiger, or a person who is grateful because He did not give it wings.' And alhamdulillah, he made me the latter =)

Saturday, November 26, 2011

'Hijrah' di hatiku

Hari berganti hari, waktu mengalir deras. Maal hijrah datang kembali. Sungguh, masa berlalu dengan pantas. Kini kita berada di bulan Muharam lagi. Alhamdulillah. Salam ma'al hijrah 1433 saya ucapkan.

Perkataan 'hijrah' mempunyai tempat yang sangat istimewa di hatiku. Setahun setengah telah berlalu, terlalu banyak perkara yang telah berlaku. Kadang terasa beban perubahan sangat ganas menyambar, lalu Allah menemukanku dengan kata-kata penawar-Nya. Kadang terasa tanggungjawab sangat berat menghempap di bahu, lalu Allah hantarkan kepadaku insan-insan istimewa berbahu perkasa. Indah sungguh percaturan Allah bukan, Dia tak menjadikan beban itu ringan, tapi Dia beri persaudaraan agar kita lebih kuat. Lagipun, kan Allah ada berfirman:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (Al-Baqarah: 286)

Mana mungkin Allah tipu! :)

Semasa di awal-awal tu banyak juga lah bertemu dengan orang-orang yang mengatakan beratnya menjalankan perintah Allah. Dulu memanglah tak tahu apa-apa. Tapi alhamdulillah, Allah ilhamkan beberapa orang ni untuk membangunkanku. Kamu, walau betapa aneh pun kamu di mataku kerana mengajak diri yang baru belajar berjalan untuk terus berlari, terima kasih, tempat kamu juga istimewa di hatiku. Tapi pokoknya, mengerjakan perintah Allah itu tidaklah menyukarkan, insya'Allah.

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dan dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam al-Qur’an ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sholat, tunaikan zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”
(Al-Hajj: 78)

Enam bulan pertama tu hidup terasa sangat jernih. Dan di sepanjang setahun yang berikutnya (1432H, tahun lepas lah), banyak perkara yang telah berlaku. Pahit atau manis, hidup terasa indah bila tahu segalanya sudah takdir Allah. Allah dah tulis segalanya laaaaamaaaa dah, lama sebelum terciptanya langit dan bumi. Pena telah terangkat, dakwat pun sudah kering. Tapi keputusan untuk mencari hikmah tu tetap ada pada kita.

Kesimpulannya, banyak perkara yang telah berlaku di sepanjang tahun 1432H dan banyak perkara yang telah dipelajari. Angin perubahan bertiup dengan sangat kencang di sepanjangnya. Kadang merasa tidak kenal dengan diri sendiri. Semoga tahun yang mendatang dan umur yang tersisa ini dimanfaatkan untuk meraih redha Allah. Kerana aku yakin Allah akan mengabulkan doa-doa, aku percaya aku masih hidup kerana dua perkara: Sama ada kerana terus hidup adalah lebih baik bagiku atau mati tidak baik bagiku (buat masa ini).

Lalu bagaimana dengan tahun-tahunmu yang telah berlalu?

Friday, November 25, 2011

Hakikat Cinta Seorang Pencinta

Meningkat umur diperjalanan ini, semakin dewasa pemikiran dan perasaan. Sungguh, kehadiran cinta menggetarkan jiwa dan rasa. Tanpa perlu belajar, tidak perlu merujuk nota…hadirnya tidak di undang, tetap melawat dan mendiam di hati insan.

Manusia sering menyebut tentang cinta pada hamba-hambaNya. Ternyata kita sering lupa hakikat cinta sebenar hanya untukNya. Rindu dan kasih sayang anugerahNya untuk kita belajar mencintaNya melebihi segalanya. Allah tidak pernah melarang hambaNya berkasih sayang. Justeru, rasa cinta itu sendiri adalah takdirNya.


Maha Mengetahuinya Dia akan hati hambaNya. Setiap jiwa memiliki perasaan untuk dicintai dan mencinta, maka Dia menyediakan jalan yang terbaik untuk hambaNya. Berkahwinlah keranaNya, mencintailah keranaNya, bertemu dan berpisah jua keranaNya,hanya untukNya. Terlalu sayangnya Dia pada hambaNya, sentiasa memberikan kita jalan yg terindah. Dia mengetahui fitrah yang membalut setiap manusia. Namun, berapa ramai yg menghayati anugerahNya. Cinta nafsu yang memerangkap jiwa remaja, padahal telah Allah memberikan peringatan demi peringatan, namun teruna dan dara terus terbelit dan terkandas dalam cinta yang dianggap indah namun rupanya bersulam nafsu semata-mata.

“ Cinta yang membuah ranum di dasar hati,

Menciptakan kemanisan pada jiwa setiap insan yang merasa,

Namun tanpa baja..tanpa dijaga,

Akar yang kukuh juga bisa rapuh,

Andai batang yang tebal jua menyembah bumi,

Manakan ranting dan dahan ingin berpaut,

Andaikan bunga yang indah berguguran sblm kembang,

Manakan buah hendak masak memerah”

Bagitulah halnya tentang cinta ini, andai perasaan yang terpendam diresipikan nafsu bukannya iman, rosaklah perasaan, tumbuhnya sekadar mngundang serangga perosak. Buahnya meranum namun rasanya pahit. Akhirnya dibiar mati tidak dipeduli.

Sabda Rasulullah saw:
“Bahawasanya di dalam jasad anak Adam ada seketul daging. Apabila baik daging itu, baiklah seluruh anggotanya. Sebaliknya, jika jahat daging itu, jahatlah seluruh anggotanya. Ketahuilah daging itu ialah hati.”
Riwayat Al-Bukhari

Jangan menghantar hatimu menuju kehancuran, kerana terlalu cintakan dunia dan manusia, akan memakan jiwa. Manakan bisa seorang hamba mengharap pada hamba yang lain, sedangkan hamba yang lain jua mengharap pada Pencipta yang satu. Sekeping hati yang dimiliki setiap jasad ini boleh berubah bila-bila masa sahaja kehendak dan kemahuannya. Sungguh rapuh.

Hari ini berbicara cinta, hari esok tiada rasa. Hari ini, berjanji setia..hari esok tiada suara. Hari ini dia milikmu, hari ini esok belum tentu. Siapa kita untuk mengatur sekeping hati, mengatur jalan kaki sendiri ke arah yang benar pun ramai yang tidak pasti.

Semua orang ingin dicintai, tambahan pula bila dicintai oleh insan yang mereka cintai. Apabila cinta tidak kesampaian, ramai yang merajuk hati hingga ada insan yang lebih memilih mati hanya kerana disingkir cinta. Alangkah ruginya titisan air mata dilepaskan untuk cinta manusia yang hidupnya hanya sementara.

Sedangkan tidak ramai yang sanggup bergenang air mata menghayati anugerah Dia. Tidak banyak pula yang mensyukuri nikmatNya. Berapa ramai yang sedar bahawa takdirnya adalah terbaik untuk setiap hambaNya. Percayalah bahawasanya Dia lebih mengenali hati hambaNya. Masakan Allah yang maha Penyayang bersikap zalim. Dia maha mengetahui segala sesuatu baik yang nyata mahupun tersembunyi.

“ Mencintai tidak bererti memiliki..

Siapa berhak melunakkan skeping hati selain Dia,

Mencintai seseorang bermakna kamu perlu bersedia menerima,

Segala kesudahan rasa,

Mencintailah keranaNya dan kamu akan merasai lazatnya cinta,

Tiada jiwa terluka..tiada hati tersiksa,

Kerana insan percaya, takdirNya terindah dari segala peristiwa,

Kerana kita percaya, Dia menentukan segalanya.

Jodohnya manusia ada ditangannya.

Saudaraku tercinta,

Andai kehendak hati terhenti,

Percayalah, Dia sedang mengaturkan sesuatu yang lebih baik lagi,

Cinta yang membuatkan mu tidak lena,

Menjadikan harimu terganggu setiap masa,

Bukannya itu cinta yang diharapkan,

Itu hanya perasaan yang hanya mengundang tekanan,

Cinta sesungguhnya apabila kamu mencinta keranaNya,

Redha dengan takdirNya,

Menerima suratan dengan siapa kamu dipertemukan,

Mensyukuri pertemuan jodohmu walau bukan dengan insan idaman,

Asalkan si dia mencintai Tuhan,

Kita kan terus mencintainya tanpa alasan.

Mengapa dicari secantik Balqis, andai diri tidak sehebat Sulaiman..Mengapa mengharap teman setampan Yusof jika kasih tidak setulus Zulaikha..Mengapa mengharap teman seteguh Ibrahim andai diri tidak sehebat Siti Hajar..Mengapa didambakan teman sehidup yang sempurna Muhammad jika ada keburukan pada diri sendiri..Bimbinglah dirinya dan terimalah kekurangan itu sebagai keunikan..Carilah kebaikan itu pada dirinya. Bersyukurlah kerana dipertemukan dengannya dan berdoalah dia milikmu…

“Aku mencintaimu kerana AGAMA yang ada padamu, Jika kau hilangkan AGAMA dalam dirimu, hilanglah CINTAku padamu..” (Imam Nawawi )

Saudaraku tersayang,

Orang yang wujud dihatinya akan suatu rasa mencintai Allah melebihi segala apa yang ada di langit dan dibumi, nescaya tiada duka buatnya. Allah akan memenuhi rindu dihatinya, tiada lagi rindunya buat duniawi yang akan binasa. Seseorang pecinta akan selalu berfikir dan menyebut insan yang dicintai, ibaratnya tak mati di hati, tak lekang di bibir. Demikian jualah cinta untuk Illahi, persiapkan lisan untuk selalu menyebut indah namaNya, sediakan hati untuk selalu mengingatiNya, dan jadilah insan yang paling bahagia dalam redaNya.

Hadis Qudsi:
Allah swt berfirman: “Aku menurut sangkaan hamba kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila dia ingat kepada-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dan dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dalam kelompoknya maka Aku akan mengingatnya dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil.” (Sahih Bukhari)

Amin.

Maklumat Peserta:

Nama : Iffa-izzati Binti Hamid

Blog : http://www.nurheart-hatiseorangaku.blogspot.com/

via akuislam.com/blog/contest-aku-islam/hakikat-cinta-seorang-pencinta/

Friday, November 18, 2011

Kerana kita pengembara

Di dalam hidup ini kita adalah pengembara yang singgah sebentar untuk berteduh di pepohonan dunia. Dan apabila tiba waktunya untuk meneruskan perjalanan, tiadalah mampu untuk kita awalkan atau lambatkan barang sedetik. Dunia adalah persinggahan.

Berteduhnya kita di bawah bayang-bayang dunia ini adalah tidak lain untuk mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal untuk perjalanan yang lebih panjang, satu kehidupan yang kekal. Semua orang tahu itu.

Tapi.. apa yang orang ramai tak tahu, wahai diri, di kalangan pengembara itu ada orang-orang yang benar-benar rindu supaya cepat sampai ke tujuan agar dapat bertemu dengan Sang Pencipta. Dan pada masa yang sama merasa sangat takut dan risau, bimbang jika diri tak layak untuk bertemu dengan kekasih hati. Memang takkan pernah layak pun, melainkan dengan rahmat-Nya jua.

Dan di kalangan para pengembara, ada hati-hati yang berjanji setia untuk mendaulat dan menyokong syariat-Nya, yang berharap apabila tiba saat untuk bertemu dengan Rasul tercinta (saw), maka nampaklah senyumnya.. Kita adalah sebahagian daripada mereka, insya'Allah.

Jadi tetaplah tabah.. Kembara kehidupan kita berbeza. Pengembaraan kita bersulamkan pengorbanan dan memang begitulah adat insan dalam perjuangan. Selagi kita masih melangkah di jalan ini, selamanya kita akan merasakan kepahitan di dunia. Tetapi ketahuilah, itu adalah kerana syurga itu manis. Dan tujuan kita bukanlah dunia. Masih ingat lagi bukan, jalan yang baginda Rasulullah (saw) lalui juga bukanlah jalan yang ditaburi dengan bunga-bunga, malah lorong yang panjang penuh onak dan duri.

"Sesungguhnya Allah membeli daripada orang yang beriman akan jiwa mereka dan harta mereka dengan (balasan) mereka akan beroleh syurga disebabkan mereka berjuang pada jalan Allah" (at-Taubah: 111)

Semoga Allah tetapkan kembara kita di atas landasan yang lurus. Aamiin.
Dan teruslah menyinari dari tampuk perjuangan.
Al-faqir ila Allah,
Samira Razin

Friday, November 4, 2011

Tolong ingatkan aku akan hikmah perpisahan

Pertemuan menghadiahkan kita kasih sayang
Jika cinta satu pasti bertemu ia tidak ternilai

Kerana antara hati kita
Telah tiada antaranya lagi
Yang ada hanya cinta kasih Ilahi

Kita berpisah hanya sementara
Kerana pertemuan bukan milik kita
Jasad dan suara berjauhan sentiasa
Namun cinta abadi

Biar terpisah selalu menderita
Kerana syurga menagih ujian
Sedang neraka dipagari oleh nikmat
Bertemu tidak jemu berpisah tak gelisah

Bicara kita adalah bicara sufi
Tanpa suara dan kata-kata
Kerana penghubung kita adalah suara hati
Bertemu berpisah kerana Allah

Suara Hati - Pertemuan Bukan Milik Kita


Kita selalu beranggapan bahawa perpisahan itu selalu sahaja membawa kepada kesedihan, keperitan, kesengsaraan dan sebagainya. Ya memanglah. Tapi... ada masanya perpisahan juga merupakan jalan keluar bagi masalah, atau pemicu kepada sesuatu yang tidak terbayangkan oleh kita.

Cuma saja, mata kita memang selalu gagal untuk melihat hikmah di setiap kejadian yang umpama jarum di dalam rimbunan jerami. Sukar dan sulit, tetapi ada. Bukankah kita selalu lupa bahawa tiada ribut taufan yang abadi?

Ya, bahkan kita juga lupa bahawa segala-galanya sudah ditentukan oleh Allah, terpahat di Lauh Mahfuz. Pernahkah kita memikirkan tentangnya? Bahawa setiap kejadian itu ada hikmahnya? Begitu juga dengan pertemuan. Kita bertemu, walau sesaat, adalah merupakan percaturan Allah. Begitu juga dengan perpisahan. Alhamdulillah, bersyukur sangat kerana akhirnya diberi kesedaran akan sebab pertemuan. Kita bertemu.. adalah untuk menyampaikan risalah Allah, berukhuwah dan mengajak kepada perkara yang baik-baik sesuai dengan tanggungjawab kita selaku umat Nabi Muhammad s.a.w. Meski nampak terlewat, tetapi kenyataannya ia sempurna.

Lalu kita kena akur, di setiap pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Pahit memang. Tetapi dengan memisahkan kita-lah Allah menjaga hati kita dari sesuatu yang tidak halal buat kita, dan yang mungkin takkan pernah halal pun. Dengan perpisahan juga Allah menemukan kita dengan kejadian atau insan lain supaya kita dapat belajar daripada mereka. Namun pada tahap kita, perpisahan adalah langkah yang mesti, perpisahan kita adalah atas dasar perjuangan, sehingga pada akhirnya kita dipertemukan lagi di alam yang kekal, sehingga takkan ada lagi perpisahan selama-lamanya. Kita berpisah adalah untuk meneruskan perjuangan yang panjang, di medan yang lain. Lupakah kita kepada musibah teragung, perpisahan dengan Rasulullah s.a.w? Yang bertitik dari perpisahan itu, bertebaranlah para sahabat ke seluruh alam. Allahua'lam.




Amar - Cebisan Kenangan

ukhwah yang terbina persis sekuntum bunga
meski pun kini kita terpisah demi kasih-Nya
namun cebisan kenangan kita
sentiasa bermain di bayangan mata
detik waktu yg berlalu
menjadi memori kau dan aku

sewaktu kita bersama saling setia menimba ilmu
tanpa mengeal erti penat jemu
ingatkah kau lagi
kita bersama memijak onak duri
ditanah gersang mengutip semangat suci
kini segalanya tersurat dalam sanubari

bersabarlah dengan ketetentuan-Nya
ada rahmat yg tersembunyi
bertemu berpisah kerana Allah
lumrah kehidupan insan beriman
moga saat nan indah
ku harap berulang lagi




Semoga pertemuan telah menjadikan kita benih yang subur, yang apabila tiba waktu untuk berpisah, dilemparkan oleh takdir ke tengah lautan sekali pun, akan tetap tumbuh menjadi sebuah pulau. Semoga kita tetap thabat di jalan ini.

Saturday, October 29, 2011

Sayap yang takkan pernah patah

Mari kita bicara tentang orang-orang patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah karena kekasihnya Salma Karami Affandi direbut oleh penguasa. Atau cinta Qays dan Layla yang membuat mereka ‘majnun’, lalu mati. Atau jangan-jangan ini cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas dihempas takdir atau layu tak berbalas.

Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu disana, hanya ada Kahlil Gibran yang sedang meratap ditengah gurun kenestapaan sambil mengucap syair:



Oh Tuhan Yang Maha Agung kasihanilah aku

Sambungkanlah sayap-sayapku yang patah



Mari kita ikut berbelasungkawa untuk mereka, mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.

Di alam jiwa, sebenarnya sayap cinta itu tidak pernah patah. Kasih selalu sampai disana.

“Apabila ada cinta dihati yang satu, pastilah ada cinta dihati yang lain, karena tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain.”

Kata Jalaludin Rumi.

Mungkin Rumi bercerita tentang yang seharusnya, tapi kita menyaksikan fakta yang lain.

Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta kepada yang lain hanyalah upaya menunjukan cinta pada-NYA, realisasi dari ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita sayangi. Dalam makna memberi itu posisi kita amat kuat. Kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan . Atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-NYA. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah ‘pekerjaan jiwa’ yang besar dan agung: MENCINTAI.

Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak , yang sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu, setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki ‘sesuatu’ yang dapat diberikan , maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pecinta sejati selamanya hanya akan bertanya: “apakah yang dapat kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan itu menjadi sekunder.

Jadi kita hanya patah atau hancur karena kita lemah, kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Segini, kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkansumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita.

Anis Matta

Pesona Sang Nabi

"Kalau aku adalah Muhammad," kata Iqbal, "aku takkan turun kembali ke bumi setelah sampai di Sidratul Muntaha."

Iqbal barangkali mewakili perasaan kita semua: persoalan keteduhan di haribaan Allah, di puncak langit ketujuh, di Sidratul Muntaha, terlalu menggoda untuk ditinggalkan apalagi untuk sebuah kehidupan penuh darah dan air mata di muka bumi. Dua kehidupan yang tidak dapat diperbandingkan. Sebab perjalanan ke Sidratul Muntaha itu memang terjadi setelah sepuluh tahun masa kenabian yang penuh tekanan, disusul kematian orang-orang tercinta yang menjadi penyangga, Khadijah dan Abu Thalib. Perjalanan itu perlu untuk menghibur Sang Nabi dengan panorama kebesaran Allah swt.

Tapi Sidratul Muntaha bukan penghentian. Maka Sang Nabi turun ke bumi juga akhirnya. Menembus kegelapan hati kemanusiaan dan menyalakannya kembali dengan api cinta. Cintalah yang menggerakkan langkah kakinya turun ke bumi. Cinta juga yang mengilhami batinnya dengan kearifan saat ia berdoa setelah anak-anak Tahif melemparinya dengan batu sampai kakinya berdarah: "Ya Allah, beri petunjuk pada umatku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui." Seperti juga cinta menghaluskan jiwanya sebelas tahun kemudian, saat ia membebaskan penduduk Makkah yang ia taklukkan setelah pertarungan berdarah-darah selama dua puluh tahun: "Pergilah kalian semua, kalian sudah kumaafkan," katanya ksatria.

Dengan kekuatan cintalah Sang Nabi menaklukan jiwa-jiwa manusia dan merentas jalan cepat kedalamnya. Maka wahyu mengalir bagai air membersihkan karat-karat hati yang kotor dan sakit, kemudian menyatukannya kembali dalam jalinan persaudaraan abadi, lalu menggerakkannya untuk menyalakan dunia dengan api cinta mereka. Seketika kota Madinah menyala dengan cinta. Lalu Jazirah Arab. Lalu Persi. Lalu Romawi. Lalu dunia. Dan Rumi pun bersenandung riang:

Jalan para nabi kita adalah jalan cinta
Kita adalah anak-anak cinta
Dan cinta adalah ibu kita

Jalan cinta selalu melahirkan perubahan besar dengan cara yang sangat sederhana. Karena ia menjangkau pangkal hati secara langsung darimana segala perubahan dalam diri seseorang bermula. Bahkan ketika ia menggunakan kekerasan, cinta selalu mengubah efeknya, dan seketika ia berujung haru.

Begitulah sebuah pertanyaan sederhana mengantar Khalid menuju Islam. Sang Nabi bertanya kepada saudara laki-laki Khalid yang sudah lebih dulu masuk Islam. "Kemana Khalid? Sesungguhnya aku menyaksikan ada akal besar dalam dirinya." Khalid yang pernah membantai pasukan panah Sang Nabi dalam perang Uhud seketika tergetar. Padahal saat itu ia sedang merencanakan serangan kepada Sang Nabi menjelang perjanjian Hudaibiyah. Ia pun mencapai kepasrahannya. ~ Anis Matta ~

Sumber: serialcinta.blogspot.com/search/label/Pesona%20Sang%20Nabi
Diakses pada 28hb Oktober 2011

PESONA NABI: Untaian Siroh Nabawiyyah

Wahai kawan mari kemari
Ada nasihat akan kuberi
Jadi pengingat tak lupa diri
Moga manfaat terbawa mati

Nasihat dalam kisah berperi
Tentang junjungan kasih Ilahi
Akan haluskan budi pekerti
Memperindah akhlak pribadi

Pribadi yang sangat istimewa
Dan memang benar adanya
Bahwa dirinya yang sempurna
Akan lahirkan banyak pesona

Pesonanya dalam penampilan
Sungguh sangat mengesankan
Wajahnya ceria lagi tampan
Tutur katanya sangat menawan

Pesonanya dalam kehalusan
Semakin membuatmu terkesan
Bahkan ia bisa memaafkan
Musuh yang selalu menyusahkan

Pesonanya dalam kasih sayang
Sungguh tiada terbilang
Ia rela percepat sembahyang
Mendengar tangis bayi mengerang

Pesonanya dalam kekuatan
Dengan mudah kau saksikan
Ketika ia dapat menjatuhkan
Seorang pegulat dalam pertarungan
Pesonanya dalam keberanian
Akan smakin menyempurnakan
Dalam kepungan terus melawan
Meski sendiri tiada berkawan

Pesonanya dalam pertempuran
Banyak musuh ditaklukkan
Itulah satu bukti kehebatan
Strategi jitu yang ia terapkan

Pesonanya dalam keluarga
Memang sangat luar biasa
Kecintaan pada putra putrinya
Kasih sayang pada istri-istrinya

Pesonanya dalam masyarakat
Hubungan yang sangat merakyat
Tak ada batas maupun sekat
Hingga semua merasa dekat

Pesonanya dalam pemerintahan
Benar-benar satu keberkahan
Karna Rasul tidak memberikan
Bagi mereka yang minta jabatan

Pesonanya dalam keadilan
Tak ada lagi yang meragukan
Semua orang sudah merasakan
Ketika Ia mengambil putusan

Pesonanya dalam kecerdasan
Hasil yang sangat menakjubkan
Di Hudaibiyah ini dibuktikan
Hingga mendapat banyak keuntungan

Ia-lah pesona kehidupan
Yang bertabur keutamaan
Cukuplah sebagai tauladan
Untuk membangun peradaban

Ia-lah pribadi yang mempesona
Qudwah hasanah amat sempurna
Imam manusia teladan utama
Diutus untuk alam semesta

Ia-lah sinar mentari pagi
Yang selalu terangi bumi
Melembutkan hati yang mati
Mengajarkan hidup hakiki

Ia-lah cahaya purnama
Menambah indah malam gulita
Membimbing jiwa yang buta
Memberi kasih sayang dan cinta

Ia-lah bintang gemerlapan
Bertabur di langit kemilauan
Mereka yang dalam kesesatan
Dapati cahaya petunjuk jalan

Ia-lah air pegunungan
Jernih dan segar menyejukkan
Bagi siapa yang membutuhkan
Menghilangkan dahaga kejiwaan

Ia-lah bukit bebatuan
Tegak berdiri tak tergoyahkan
Bagi yang merasa ketakutan
Akan aman di benteng perlindungan

Ia-lah pohon yang tegak berdiri
Akar kokoh menghujam ke bumi
Semangat dan cita-cita tinggi Namun teduh sejuk menaungi

Ia-lah deru angin topan
Yang siap menghancurkan
Segala bentuk kebatilan
Yang kotori nilai kehidupan

Ia-lah gelombang pasang
Sungguh dahsyat menerjang
Hancurkan jiwa pembangkang
Hingga Asma-Nya saja terbilang

Ia-lah api panas membara
Yang akan membakar segala
Sifat lemah dan cinta dunia
Tuk menjadi manusia mulia

Ia-lah senjata yang tajam
Selalu terhunus siap menghujam
Semua musuh merasa terancam
Tak rasakan jiwanya tenteram

Ia-lah pena yang menuliskan
Beribu kata dalam goresan
Setiap saat sampaikan pesan
Bahwa dunia bukanlah tujuan

Ia-lah bait-bait puisi
Tersusun indah penuh arti
Tak mengapa meskipun mati
Cinta padanya selalu di hati

Benarlah ia manusia utama
Dengan hati seluas samudra
Seperti angin sebarkan cinta
Tak ada lagi dendam di dada

Sungguh keutamaan sempurna
Takan bisa diungkap semua
Meski ditambah selaut tinta
Habis sudah kosa dan kata

Tapi kenyataan yang ada
Gambar cahya sangat indahnya
Betapa agung akhlak mulia
Menyebar kasih damai dunia

Ini sekedar satu upaya
Kerja kecil tiada makna
Sebagai bukti kuatnya cinta
Pada junjungan Nabi Mulia


(Dwi Fahrial)
Sumber: dwifahrial.info/?p=347
Diakses pada 28hb Oktober 2011

Wednesday, September 14, 2011

Teruntuk bakal isteriku

Assalamualaikum wrt. wbt.

Untukmu, Bakal isteriku..
Tangan ini mula menulis apa yang telah dikarangkan oleh hati ini di dalam kalbu. Aku mula tertanya-tanya adakah aku sudah seharusnya mula mencari sebahagian diriku yang hilang. Bukanlah niat ini disertai oleh nafsu tetapi atas keinginan seorang muslim mencari sebahagian agamanya. Acap kali aku mendengar bahawa ungkapan “Kau tercipta untukku.”

Aku awalnya kurang mengerti apa sebenarnya erti kalimah ini kerana diselubungi jahiliyah. Rahmat dan hidayah Allah yang diberikan kepada diriku, baru kini aku mengerti bahawa pada satu hari nanti, aku harus mengambil satu tangungjawab yang sememangnya diciptakan khas untuk diriku, iaitu dirimu. Aku mula mempersiapkan diri dari segi fizikal, spiritual dan juga intelektual untuk bertemu denganmu.

Aku mahukan pertemuan kita yang pertama aku kelihatan ‘sempurna’ di hadapanmu walaupun hakikatnya masih banyak lagi kelemahan diri ini. Aku cuba mempelajari erti dan hakikat tanggungjawab yang harus aku galas ketika dipertemukan dengan dirimu. Aku cuba membataskan perbicaraanku dengan gadis lain yang hanya dalam lingkaran urusan penting kerana aku risau aku menceritakan rahsia diriku kepadanya kerana seharusnya engkaulah yang harus mengetahuinya kerana dirimu adalah sebahagian dariku dan ianya adalah hak bagimu untuk mengetahui segala zahir dan batin diriku ini.

Apabila diriku memakai kopiah, aku digelar ustaz. Diriku diselubungi jubah, digelar syeikh. Lidahku mengajak manusia ke arah makruf digelar daie. Bukan itu yang aku pinta kerana aku hanya mengharapkan keredhaan Allah. Yang aku takuti, diriku mula didekati oleh wanita kerana perawakanku dan perwatakanku. Baik yang indah berhijab atau yang ketat bert-shirt, semuanya singgah disisiku. Aku risau imanku akan lemah. Diriku tidak dapat menahan dari fitnah ini. Rasulullah S.A.W pernah bersabda, “Aku tidak meninggalkan setelahku fitnah yang lebih bahaya untuk seorang lelaki melainkan wanita.”

Aku khuatir amalanku bukan sebulatnya untuk Rabbku tetapi untuk makhluknya. Aku memerlukan dirimu untuk menghindari fitnah ini. Aku khuatir kurangnya ikhlas dalam ibadahku menyebabkan diriku dicampakkan ke neraka meninggalkan kau seorang diri di syurga. Aku berasa bersalah kepada dirimu kerana khuatir cinta yang hak dirimu akan aku curahkan kepada wanita lain. Aku sukar untuk mencari dirimu kerana dirimu bagaikan permata bernilai di antara ribuan kaca menyilau. Tetapi aku pasti jika namamu yang ditulis di Luh Mahfuz untuk diriku, nescaya rasa cinta itu akan Allah tanam dalam diri kita. Tugas pertamaku bukan mencari dirimu tetapi mensolehkan diriku. Sukar untuk mencari solehah dirimu andai solehku tidak setanding dengan ke’solehah’anmu. Janji Allah pasti kupegang dalam misi mencari dirimu. “Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik.”

Jiwa remaja ku ini mula meracau mencari cinta. Matang kian menjelma dan kehadiran wanita amat terasa untuk berada di sisi. Setiap kali aku merasakannya, aku mengenangkan dirimu. Di sana engkau setia menunggu diriku, tetapi di sini aku curang kepadamu andai aku bermain dengan cinta fatamorgana. Sampaikan doamu kepada diriku agar aku dapat menahan gelora kejantananku disamping aku mengajukan sendiri doa diperlindungi diri.

Bukan harta,rupa dan keturunan yang aku pandang dalam mencari dirimu. Cukuplah agama sebagai pengikat kasih antara kita. Saat di mana aku bakal melamarmu, akan ku lihat wajahmu sekilas agar mencipta keserasian diantara kita kerana itu pesan Nabi kita. Tidak perlu alis mata seakan alis mata unta, wajah bersih seakan putih telur ataupun bibir merah delima tetapi cukup cuma akidah sekuat akar, ibadah sebagai makanan dan akhlak seindah budi.

“Kahwinilah isteri kerana empat perkara; keturunan, harta, rupa dan agama. Dan jika kau memilih agama, engkau tidak akan menyesal.” Jika aku dipertemukan dengan dirimu, akan ku jaga perasaan kasih ini supaya tidak tercurah sebelum masanya. Akan ku jadikan syara’ sebagai pendinding diri kita. Akan ku jadikan akad nikah itu sebagai cop halal untuk mendapatkan dirimu. Biarlah kita mengikuti nenek moyang kita, Nabi Adam dan Siti Hawa yang bernikah sebelum disatukan agar kita dapat menikmati kenikmatan perkahwinan yang menjanjikan ketenangan jiwa, ketenteraman hati dan kedamaian batin. Doakan diriku ini agar tidak berputus asa dan sesat dalam misi mencari dirimu kerana aku memerlukan dirimu untuk melengkapkan sebahagian agamaku.

Dariku, bakal suamimu xD

Diambil dari: ayonikah.net/surat-untuk-calon-istriku.html

Tuesday, September 13, 2011

Teruntuk saudaraku yang sedang dalam masa penantiannya..

ijinkanlah saya berbagi dalam goresan tulisan ini…
jika menurut teman-teman, baik…maka ambillah…
dan jika menurut teman-teman, buruk…maka tinggalkanlah….

saudaraku….

wanita muslimah…laksana bunga….yang menawan…
wanita muslimah yang sholehah….bagaikan sebuah perhiasan yang tiada ternilai harganya….
Begitu indah…
begitu berkilau…
begitu menentramkan…

teramat banyak yang ingin meraih bunga tersebut…
namun tentunya….tak sembarang orang berhak meraihnya….menghirup sarinya….

hanya yang dia yang benar-benar terpilihlah…yang dapat memetiknya…
yang dapat meraih pesonanya…
dengan harga mahal yang teramat suci…
sebuah ikatan amat indah…bernama pernikahan…
karena itu…sebelum saatmu tiba….
janganlah engkau biarkan seorang muslimah layu sebelum masanya…
jangan kau menjadikan serigala liar membuatnya bahan permainan dalam keisenganmu…
Jangan kau biarkan ia permainkan hatimu yang rapuh….atas nama taaruf…atas nama cinta…

Ya…atas nama cinta…
jangan kau biarkan ia permainkan hatimu yang rapuh….atas nama taaruf…atas nama cinta

Kau tau saudaraku…??
Jika seseorang jatuh cinta….maka cinta akan membungkus seluruh aliran darahnya…membekuknya dalam jari-jarinya…dan menutup semua mata…hati dan pikirannya….
Membuat seseorang lupa akan prinsipnya….
Membuat seseorang lupa akan besarnya fitnah ikhwan-akhwat…
Membuat seseorang lupa akan apa yang benar dan apa yang seharusnya ia hindarkan…
Membuat seseorang itu lupa akan apa yang telah ia pelajari sebelumnya tentang batasan-batasan pergaulan ikhwan akhwat…
Membuat seseorang menyerahkan apapun…supaya orang yang ia cintai…”bahagia” atau ridho terhadap apa yang ia lakukan…

Membuat orang tersebut lupa…bahwa….cinta mereka belum tentu akan bersatu dalam pernikahan….

Ya saudaraku….akhi fillah…

Jangan sampai cinta menjerumuskanmu dalam lubang yang telah engkau tutup rapat sebelumnya…

Karena itu…jika engkau mulai menyadari adanya benih-benih cinta mulai tertanam lembut dalam hatimu yang rapuh…segeralah…buat sebuah benteng yang tebal…yang kokoh…
Tanam rumput beracun disekelilingnya…
Pasang semak berduri di muara-muaranya

Cinta sejati hanyalah pada Rabbul Izzati. Cinta yang takkan bertepuk sebelah tangan. Namun Allah tidak egois mendominasi cinta hamba-Nya. Dia berikan kita cinta kepada anak, istri, suami, orang tua, kaum muslimin…

Cinta begitu dasyat pengaruhnya…jika engkau tau….
Karena itu…jika engkau mulai menyadari adanya benih-benih cinta mulai tertanam lembut dalam hatimu yang rapuh…segeralah…buat sebuah benteng yang tebal…yang kokoh…
Tanam rumput beracun disekelilingnya…
Pasang semak berduri di muara-muaranya….

Berlarilah menjauhinya…menjauhi orang yang kau cintai….
Buat jarak yang demikian lebar padanya….

jangan kau berikan ia kesempatan untuk menjajaki hatimu…

Biarlah air mata mengalir untuk saat ini…
Karena kelak yang akan kalian temui adalah kebahagiaan…
biarlah sakit ini untuk sementara waktu…
biarlah luka ini mengering dengan berjalannya kehidupan…

Karena…cinta tidak lain akan membuat kalian sendiri yang menderita…
Kalian sendiri…

Saudaraku…. tentunya sudah mengerti dan paham…
bagaimana rasanya jika sedang jatuh cinta…
jika dia jauh..kita merasa sakit karena rindu…
jika ia dekat…kita merasa sakit…karena takut kehilangan….

padahal…ia belum halal untukmu…dan mungkin tidak akan pernah menjadi yang halal…

karena itu…jauhilah ia…
jangan kau biarkan dia menanamkan benih-benih cinta di hatimu….dan kemudian mengusik hatimu…
jangan kau biarkan dia mempermainkanmu dalam kisah yang bernama cinta…

maka…bayangkanlah keadaan ini…tentang istrimu kelak…

saudaraku…..
sukakah engkau..??
apabila saat ini ternyata istrimu (kelak) sedang memikirkan pria yang itu bukan engkau..???

sukakah engkau..??
bila ternyata istrimu (kelak) saat ini tengah mengobrol akrab…tertawa riang…becanda…
saling menatap…
saling menggoda…
saling mencubit…
saling memandang dengan sangat…
saling menyentuh…???
dan bahkan lebih dari itu…??

sukakah engkau saudaraku…??

sukakah engkau bila ternyata saat ini istrimu (kelak) sedang jalan bersama pria lain yang itu bukan engkau…??
sukakah engkau…??
bila saat ini istrimu (kelak) tengah berpikir dan merencanakan pertemuan berikutnya…??
tengah disibukkan oleh rencana-rencana…apa saja yang akan ia lakukan bersama pria itu…??

tidak cemburukah engkau temanku..??
bila saat ini istrimu (kelak) sedang makan bareng bersama pria lain…
istrimu (kelak) saat ini sedang digoda oleh pria-pria….
istrimu (kelak) sedang ditelepon dengan mesra…
istrimu (kelak) saat ini sedang curhat dengan pria… yang berkata…”aku tak bisa jika sehari tak mengobrol denganmu…”

tidak cemburukah…?? tidak cemburukah…?? tidak cemburukaaaaahhhhhhhh……???

tidak terasa bagaimanakah..
jika istrimu (kelak) saat ini tengah beradu pandangan…
bercengkrama..
bercerita tentang masa depannya…
dengan pria lain yang bukan engkau…???

sukakah engkau kiranya istrimu (kelak) saat ini tidak bisa tidur karena memikirkan pria tersebut…??
menangis untuk pria tersebut…??
dan berkata dengan hati hancur…”aku sangat mencintamu…aku sangat mencintaimu…???”
tidak patah hatikah engkau…???
sukakakah engkau bila istrimu (kelak ) berkata pada pria lain..”tidak ada orang yang lebih aku cintai selain engkau…??”
menyebut pria tersebut dalam doanya…
memohon pada Allah supaya pria tersebut menjadi suaminya…

dan ternyata engkaulah yang kelak akan jadi suaminya…..dan bukan pria tersebut…???

jika engkau tidak suka akan hal itu…
jika engkau merasa cemburu….
maka demikian halnya dengan istrimu (kelak)…

dan…Allah jauh lebih cemburu daripada istrimu….
Allah lebih cemburu…saudaraku…
melihat engkau sendirian…namun pikirannmu enggan berpindah dari wanita yang telah mengusik hatimu tersebut….

saudaraku….kalian percaya takdir bukan..?

saudaraku….kalian percaya takdir bukan..?

apabila dua orang telah digariskan untuk dapat hidup bersama…
maka…
sejauh apapun mereka…
sebanyak apapun rintangan yang menghalangi…
sebesar apapun beda diantara mereka…
sekuat apapun usaha dua orang tersebut untuk menghindarkannya…

meski mereka tidak pernah komunikasi sebelumnya…
meski mereka sama sekali tidak pernah membayangkan sebelumnya…
meski mereka tidak pernah saling bertegur sapa…

PASTI tetap saja mereka akan bersatu….
seakan ada magnet yang menarik mereka…
akan ada hal yang datang…untuk menyatukan mereka berdua….
akan ada suatu kejadian…yang membuat mereka saling mendekat…dan akhirnya bersatu…

namun…
apabila dua orang telah ditetapkan untuk tidak berjodoh…
maka…
sebesar apapun usaha mereka untuk saling mendekat…
sekeras apapun upaya orang disekitar mereka untuk menyatukannya…
sekuat apapun perasaan yang ada diantara mereka berdua…
sebanyak apapun komunikasi diantara mereka sebelumnya…
sedekat apapun…

PASTI…akan ada hal yang membuat mereka akhirnya saling menjauh…
ada hal yang membuat mereka saling merasa tidak cocok…
ada hal yang membuat mereka saling menyadari bahwa memang bukan dia yang terbaik….
ada kejadian yang menghalangi mereka untuk bersatu…

bahkan ketika mereka mungkin telah menetapkan tanggal pernikahan…

namun…yang perlu dicatat disini adalah…
yakinlah…bahwa yang diberikan oleh Allah…
yakinlah…bahwa yang digariskan oleh Allah…
yakinlah…bahwa yang telah ditulis oleh Allah dalam KitabNya..
adalah…yang terbaik untuk kita….
adalah….yang paling sesuai untuk kita…
adalah…yang paling membuat kita merasa bahagia,,,,

karena Dialah…yang paling mengerti kita…lebih dari kita sendiri…
Dialah…yang paling menyayangi kita…
Dialah…yang paling mengetahui apa-apa yang terbaik untuk kita…
sementara kita hanya sedikit saja mengetahuinya…dan itupun hanya berdasarkan pada persangkaan kita…

dan….yang perlu kita catat juga adalah…
JIKA KITA TIDAK MENDAPATKAN SUATU HAL YANG KITA INGINKAN…ITU BUKAN BERARTI BAHWA KITA TIDAK PANTAS UNTUK MENDAPATKANNYA….NAMUN JUSTRU BERARTI BAHWA…KITA PANTAS…KITA PANTAS MENDAPATKAN YANG LEBIH BAIK DARI HAL TERSEBUT…
KITA PANTAS MENDAPATKAN YANG LEBIH BAIK…SAUDARAKU….
LEBIH BAIK….
meskipun saat ini…mata manusia kita tidak memahaminya…
meskipun saat itu…perasaan kita memandangnya dengan sebelah mata…
meskipun saat itu…otak kita melihatnya sebagai sesuatu yang buruk….

Tidak…jangan terburu-buru menvonis bahwa engkau telah diberikan sesuatu yang buruk….bahwa engkau tidak pantas….
karena kelak…engkau akan menyadarinya…
engkau akan menyadarinya perlahan…bahwa apa yang telah hilang darimu….bahwa apa yang tidak engkau dapatkan….bukanlah yang terbaik untukmu…bukanlah yang pantas untukmu…bukanlah sesuatu yang baik ,,,,untukmu….

karena itu…saudaraku…
jangan mubazirkan perasaanmu…air matamu…waktumu….
jangan kau umbar semua perasaan cintamu ketika engkau tengah menjalin proses taarufan…
jangan kau umbar semua kekuranganmu…jangan kau ceritakan semuanya…
jangan kau terlalu ngotot ingin dengannya…jika engkau mencintainya…
karena belum tentu dia adalah jodohmu…
pun jangan takut bila ternyata kalian tidak merasa cocok…
karena Allah telah menetapkan yang terbaik untuk kalian…

maka…memohonlah padaNya…
mintalah padanya diberikan petunjuk…dan dijauhkan dari segala godaan yang ada…
karena…cinta sebelum pernikahan…pada hakekatnya adalah sebuah cobaan yang berat…

Dan…percayalah…jodoh itu tidak ada kaitannya dengan banyak sedikitnya kenalan…banyak sedikitnya teman perempuan

sama sekali tidak…
karena jika laki-laki yang terjaga maka Allahlah yang akan mengirimkan pendamping untuknya…
karena laki-laki yang terjaga adalah laki-laki yang banyak didamba oleh seorang akhwat sejati…
jadi…jagalah dirimu…hatimu…kehormatanmu…sebelum saatnya tiba…

perbanyak bekalmu…dan doamu…
yakinlah…bahwa Allah yang akan memilihkan yang terbaik untukmu…
amien…

*Ya Allah…karuniakanlah kami seorang pasangan yang sholeh…
yang menjaga dirinya…
yang menjaga hatinya hanya untuk yang halal baginya…
yang senantiasa memperbaiki dirinya…
yang senantiasa berusaha mengikuti sunnah Rasulullah…
yang baik akhlaknya…
yang menerima kami apa adanya…
yang akan membawa kami menuju Jannah Mu Ya Rabb…

kabulkan ya Allah…
amien…
dan segerakanlah…karena hati kami teramat lemah…dan cinta sebelum menikah adalah sebuah cobaan yang berat…

Diambil dari: oaseimani.com/saudaraku-yang-sedang-dalam-masa-penantiannya.html

Thursday, April 21, 2011

Di persimpangan hijrah


Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Assalamualaikum warahmatullah wabaratuh buat saudara dan saudari yang dirahmati Allah sekalian. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah mengilhamkan saya untuk berkongsi dengan anda sekalian tentang sesuatu yang lama terbuku di hati. Ringan rasa jari menaip, mungkin sudah tiba masanya untuk melepaskan beban ini. Adapun tujuan utama tertulisnya artikel ini adalah buat peringatan, terutamanya sekali bagi diri saya sendiri yang terlalu banyak kekurangan.
Sebelum itu, saya ingin mengajak saudara dan saudari yang dirahmati Allah sekalian untuk sama-sama merenung satu persoalan ini. Apakah perasaan anda semua sekiranya ada orang yang sangat anda kasihi dan sayangi mati di dalam keadaan kufur? Dapatkah anda membayangkan keadaan orang tersebut yang akan diseksa di dalam neraka buat selama-lamanya? SELAMA-LAMANYA…

Saya dilahirkan di dalam keluarga yang belum berugama Islam, di dalam keluarga yang sederhana dan harmonis. Di samping ibu dan ayah, saya juga turut dijaga oleh nenek. Kira-kira 5 tahun lepas, nenek jatuh sakit. Dari hari ke hari sakit nenek semakin tenat manakala saya pula masih lagi berselimutkan kejahilan, kurang ambil peduli sangat. Jiran kami yang tolong jagakan nenek padahal saya sendiri berada di rumah pada ketika itu.

Masih terngiang di telinga suara beliau pada pagi itu, “Manja.. badanku lemah..” Sambil membetulkan bantal beliau, aku mendekatkan telinga ke bibirnya. “Badanku sangat lemah…,” katanya lagi. Lalu petang itu suara tangisan memenuhi ruang rumah, saudara-mara turut datang. Takdirlah yang menentukan dia meninggalkan dunia ini di dalam keadaan sedemikian. Pada ketika itu tak terfikir pun tentang syurga dan neraka, tentang pambalasan Allah di hari akhir kelak. Cuma tahu menangis dan menangis mengenangkan hal dunia.

Waktu silih berganti namun keberadaan beliau masih dirindui. Setelah empat tahun berlalu, saya pun berhijrah, alhamdulillah. Kebanyakan waktu dimanfaatkan untuk menuntut ilmu. Betapa hancurnya hati saya apabila mengenangkan nasib beliau di sana. Tak sanggup untuk membayangkan wajahnya.. Air mata bertakung di hati, ingin dilepaskan apa gunanya? Semenjak hari itu saya cuba melupakan segalanya. Tiada guna untuk dikenang lagi. Memang, ada kalanya rindu bertandang namun ku cuba menutup jendela hati. Kadang-kadang saya sudah tidak tahu untuk merasakan apa lagi. Kejam, tidak berhati perut? Lebih menyakitkan lagi bila terkadang mendengar ungkapan rindu saudara terhadap beliau. Hati rasanya bagaikan disiat-siat. Yang ada cuma rasa kecewa. Di manakah orang Islam pada ketika orang-orang jahil memerlukan bimbingan? Tidakkah mereka ingin menyelamatkan saudara-saudara mereka dari dihumbankan ke neraka Jahannam buat selama-lamanya? Astaghfirullah.. telah ku habiskan sisa-sisa rindu untuk menulis kisah ini.
LALU BAGAIMANA DENGAN KITA?? Berapa lama lagikah kita akan hidup? Yakin sangatkah kita bahawa apabila kita melelapkan mata pada malam ini, esok kita masih bernafas lagi? Dan bagaimana dengan iman? Jika nyawa kita dicabut pada ketika ini, adakah kita akan terselamat dari azab neraka? Mungkin kita sedang menganut agama Islam tetapi akankah kita mati sebagai seorang Muslim?

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kalian meninggal kecuali kalian tetap sebagai muslim. (Qs Ali Imron: 101)

Marilah kita sama-sama muhasabah diri, selama ini adakah kita sudah layak dipanggil seorang Muslim?
Apakah kita menjaga solat?
Daripada Abdullah bin Umar r.a. daripada Nabi s.a.w. bahawa pada suatu hari baginda menyebut tentang solat lalu baginda bersabda, yang bermaksud:
“Sesiapa yang memelihara solat, nescaya solatnya menjadi nur untuknya, ketandaan (iman) dan kelepasan (dari neraka) pada hari kiamat. Sebaliknya sesiapa yang tidak memeliharanya nescaya tiada nur baginya, ketandaan dan kelepasan. Malahan dia adalah (dikumpulkan dalam neraka yang paling panas sekali) bersama Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubai bin Khalaf.”(Hadis riwayat Ahmad, at-Tabrani dan Ibnu Hibban).
Daripada Jabir r.a. meriwayatkan beliau telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, yang bermaksud:
“Sesungguhnya meninggalkan solat ialah (perkara yang menghubungkan) seseorang dengan kufur.”(Hadis riwayat Ahmad dan lain-lainnya).
Ijma’ para ulama mengatakan bahawa hukum orang yang meninggalkan solat kerana ingkar terhadap kewajipannya, adalah jatuh kafir.
Namun, sekiranya seseorang itu meninggalkan solat atas sebab malas, tetapi dia tahu dia wajib solat, maka terdapat tiga pendapat ulama tentang hukumnya, iaitu:
  1. Orang itu tidak menjadi kafir, tetapi dia menjadi fasik. Maka wajib atas pihak yang berkuasa bertindak menyuruhnya bertaubat kembali mengerjakan solat. Sekiranya dia enggan bertaubat maka dijalankan ke atasnya hukuman hudud, iaitu dibunuh dengan pedang.
    Ini pendapat Imam Malik, Syafi’e dan jumhur ulama salaf dan khalaf.
  2. Orang itu menjadi kafir. Hukumnya sama seperti orang yang ingkar terhadap kewajipannya tadi.
    Ini adalah pendapat satu jemaah daripada para salaf yang diambil riwayatnya daripada Saidina Ali bin Abu Talib dan salah satu pandangan Imam Ahmad bin Hambal serta pendapat Abdullah bin al-Mubarak dan Ishak bin Rahawaih.
  3. Orang itu tidak menjadi kafir dan tidak pula dibunuh, sebaliknya ditakzirkan dengan dipenjarakan sehingga dia mengerjakan solat.
    Ini pula adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan satu jemaah daripada para fuqahak Kufah dan juga pendapat al-Muzani seorang pendokong dan pengikut Imam asy-Syafi’e.
(Soleh.net, 2008)
Jika kita mati pada hari ini, bebaskah kita daripada syirik?
"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa selain dari syirik itu bagi siapa yang di kehendaki-Nya." (an Nisa': 116).

"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan padanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seseorang penolongpun." (Al Maidah: 72).

Di antara perkara syirik ialah berdo’a kepada selain Allah, mencintai sesuatu atau ‘seseorang’ melebihi Allah dsb. (http://trimul.multiply.com/journal/item/4)

Lalu, adakah kita serius di dalam menjalankan kewajipan-kewajipan kita? Di dalam beribadah? Menutup aurat? Menjauhi zina?
"Katakanlah wahai (Muhammad), 'Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?' Tidak usah kalian minta ma'af, karena kalian kafir sesudah beriman." (At Taubah: 65-66)

Astaghfirullah al-adzhim.. Terlalu banyak perkara yang kita ambil mudah. Saudara dan saudari yang dirahmati Allah sekalian, sama-samalah kita berdoa dan berusaha agar hidup dan matinya kita tidak ada yang lain melainkan sebagai seorang Muslim. Janganlah sampai kita Islam hanya pada nama atau I/c sahaja.

“Wahai orang-orang beriman, selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari Neraka, sedangkan bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Neraka itu dijaga oleh malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka sama sekali tidak pernah durhaka pada Allah dan melaksanakan apa sahaja yang diperintahkan pada mereka.” (At-Tahrim: 6)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah mengilhamkan anda untuk terus membaca sehingga akhir. Yang baik datang dari Allah, yang buruk adalah dari kecetekan ilmu saya jua. Jika terdapat kesalahan sila tolong betulkan. Semoga bermanfaat.

Tuesday, January 11, 2011

Disbelieve



A few days ago, I stumble upon a very old, childhood friend of mine. As usual, we talked about many random things, being grateful of what we’re having at this moment while enjoyed reminiscing the old time.  One of the topics that struck our conversations was our life during middle school, away from home. Talking of which, the first night we stayed at hostel was last night, ten years ago. It was 09/01/2001. Did time just flew THAT fast? Indeed it is. But ten years is not that long actually. I remembered that I didn’t believe my teacher when he said he stayed at hostel for nine years.And of course that's just how we always react to things that we don't have knowledge on. Or at least I was.

Humans tend to argue things that they don't know of either it is good or bad. Making it worse, they don't want to seek the knowledge to know the truth at all. And that do worries a number of us. Why?