Saturday, October 29, 2011

Sayap yang takkan pernah patah

Mari kita bicara tentang orang-orang patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah karena kekasihnya Salma Karami Affandi direbut oleh penguasa. Atau cinta Qays dan Layla yang membuat mereka ‘majnun’, lalu mati. Atau jangan-jangan ini cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas dihempas takdir atau layu tak berbalas.

Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu disana, hanya ada Kahlil Gibran yang sedang meratap ditengah gurun kenestapaan sambil mengucap syair:



Oh Tuhan Yang Maha Agung kasihanilah aku

Sambungkanlah sayap-sayapku yang patah



Mari kita ikut berbelasungkawa untuk mereka, mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.

Di alam jiwa, sebenarnya sayap cinta itu tidak pernah patah. Kasih selalu sampai disana.

“Apabila ada cinta dihati yang satu, pastilah ada cinta dihati yang lain, karena tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain.”

Kata Jalaludin Rumi.

Mungkin Rumi bercerita tentang yang seharusnya, tapi kita menyaksikan fakta yang lain.

Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta kepada yang lain hanyalah upaya menunjukan cinta pada-NYA, realisasi dari ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita sayangi. Dalam makna memberi itu posisi kita amat kuat. Kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan . Atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-NYA. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah ‘pekerjaan jiwa’ yang besar dan agung: MENCINTAI.

Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak , yang sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu, setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki ‘sesuatu’ yang dapat diberikan , maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pecinta sejati selamanya hanya akan bertanya: “apakah yang dapat kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan itu menjadi sekunder.

Jadi kita hanya patah atau hancur karena kita lemah, kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Segini, kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkansumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita.

Anis Matta

No comments:

Post a Comment