I've been dreaming,
That they sliced my body,
And chopped my limbs,
The pain felt real,
Yet I lived still,
Friends came visitting,
I said farewell,
For my end is near,
And when the time come,
I died with a smile..
It may looks sad but I think I've never been happier in my dreams than this one.
Why do we sometimes dream of certain place, people, scent, colours etc? That when we wake up it felt really really and again really strange?
*******************************
Bunga Tidur atau Mimpi merupakan suatu hal yang lazim dialami oleh
seseorang pada saat tidur. Menurut pengertian umum mimpi adalah suatu
rangkaian imaginasi atau daya khayal dari suatu kejadian yang kita alami
waktu kita sedang tidur.
Mimpi yang menyenangkan menyebabkan
manusia yang mengalaminya berbahagia. Saat terjaga, serasa hati berbunga
dan tak jarang mata ingin dipejamkan kembali guna melanjutkan mimpi
indah yang terputus. Sebaliknya, mimpi yang jelek lagi menakutkan
membuat resah dan sedih.
Dalam sudut pandang Islam, mimpi itu dikategorikan menjadi tiga jenis. yaitu:
1. Adhghatsul ahlam (Mimpi yang kosong).
Mimpi
ini dilihat oleh seseorang dalam tidurnya sebagai cermin dari
keinginannya atau apa yang terjadi pada dirinya dalam hidupnya.
Kebanyakan
orang bermimpi sesuatu yang menjadi bisikan hatinya, yang
memenuhi pikirannya ketika terjaga, dan sesuatu yang berlangsung pada
dirinya saat terjaga. Mimpi yang seperti ini tidak ada hukumnya.
2. Al-hulm (Mimpi dari setan)
Setan
mendatangi seseorang di dalam mimpi lalu mengatakan ini dan itu, atau
menampakkan ini dan itu. Setan bermaksud menakut-nakuti seseorang dengan
mimpi ini.
Setan dapat menggambarkan dalam tidur seseorang tentang
urusan yang menakutkannya, baik yang berkaitan dengan diri, harta,
keluarga, maupun masyarakatnya.
Mimpi seperti ini biasanya dialami oleh seseorang yang tidur tanpa mengucapkan wirid-wirid yang diajarkan Rasulullah.
Ia
tidak membaca Ayat Kursi saat hendak tidur. Tidak pula ia membaca surah
al-Ikhlash dan al-Mu’awwidzatain (al-Falaq serta an-Nas). Setan pun
datang dalam mimpinya.
Demikianlah perbuatan setan yang gemar
membuat sedih orang-orang yang beriman, sebagaimana firman ALLAH;
“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu dari setan, dengan tujuan agar orang-orang beriman itu bersedih hati….”
[QS.al-Mujadilah: 10]
Ketika seseorang bermimpi seperti
ini,
Nabi memerintahkannya untuk menempuh sebab-sebab yang bisa menolak
kejelekan mimpi tersebut. Caranya adalah sebagai berikut:
1. Meludah sedikit ke arah kirinya, tiga kali.
2. Beristi’adzah (meminta perlindungan) kepada ALLAH dari setan, tiga kali.
3. Berlindung kepada ALLAH dari kejelekan yang dilihatnya dalam mimpi.
4. Memalingkan lambung/rusuknya ke arah yang berlainan dari arah/posisi semula.
5. Tidak menceritakannya kepada seorang pun.
6.
Hendaknya dia bangkit dari tempat tidurnya untuk berwudhu lalu
mengerjakan shalat, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah,
Rasulullah bersabda: ِّ
“Bila salah seorang kalian melihat sesuatu
yang dibencinya dalam mimpi, hendaklah ia bangkit dari tempat tidurnya
(untuk berwudhu) lalu mengerjakan shalat.”
{HR.Muslim}
Setelah
itu, hendaklah ia menenangkan hatinya bahwa mimpi itu tidak akan
memudaratkannya, sesuai dengan keyakinan akan benarnya sabda Rasulullah.
3. Ar-ru’ya ash-shalihah (Mimpi yang benar).
Mimpi ini dijalankan melalui tangan malaikat. Dalam mimpi ini tidak ada penyesatan, hanya kebaikan.
Mimpi inilah yang dikatakan dalam hadits Rasulullah:
"Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian nubuwwah/kenabian."
{HR.Bukhari dan Muslim}
Mimpi
ini termasuk kabar gembira dan biasanya hanya dialami oleh orang-orang
yang beriman, walaupun kadang terjadi pada orang kafir karena suatu
hikmah yang ALLAH kehendaki.
seperti mimpi raja dalam kisah Nabi
Yusuf. Raja tersebut kafir, namun ia bermimpi dengan mimpi yang benar.
Hikmahnya adalah untuk mengangkat kedudukan Nabi Yusuf. ALLAH hendak
memuliakan beliau dengan menakwil mimpi sang raja dan menampakkan
keilmuan serta keutamaannya, hingga akhirnya beliau dikeluarkan dari
penjara dan menjadi petinggi negeri (pejabat negara).
(Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin 1/327—330, I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, 1/348—349)
Abu Qatadah berkata, Rasulullah bersabda:
“Mimpi
yang baik dari ALLAH, sedangkan al-hulm (mimpi yang buruk) dari setan.
Maka apabila salah seorang dari kalian melihat dalam mimpinya apa yang
dia sukai, janganlah ia ceritakan tentang mimpi tersebut kecuali kepada
orang yang dicintainya. Sebaliknya bila ia melihat dalam mimpinya apa
yang tidak disukainya, hendaklah ia berlindung kepada ALLAH dari
kejelekan mimpi tersebut dan dari kejelekan setan. Dan hendaklah ia
meludah kecil tiga kali, jangan pula ia ceritakan mimpi tersebut kepada
seorang pun, maka mimpi itu tidak akan memudaratkannya.”
{HR.Bukhari dan Muslim}
Dalam
hadits di atas, Rasulullah mengabarkan bahwa mimpi yang selamat dari
percampuran setan dan kekacauannya, adalah mimpi dari ALLAH.
Malaikat
ALLAH yang menjalankan mimpi tersebut padanya, sehingga dengan mimpi
itu ia mungkin mendapat peringatan. Terkadang, tampak jelas baginya
beberapa hal yang semula tidak jelas atau tidak diketahui, atau ia
mengingat hal yang semula ia lupa.
Mungkin pula ia beroleh peringatan kepada hal-hal yang bermanfaat untuk diketahuinya atau dikerjakannya.
Bisa
jadi pula ia beroleh peringatan dari perkara yang bermudarat bagi agama
atau dunianya yang semula tidak terlintas di benaknya.
Bisa pula ia beroleh nasihat, dorongan, dan peringatan dari amalan-amalan yang rancu baginya atau yang ingin ia kerjakan.
Lihatlah mimpi Nabi yang disebutkan oleh ALLAH dalam firman-Nya:
“(Yaitu)
ketika ALLAH menampakkan mereka kepadamu dalam mimpimu berjumlah
sedikit. Dan sekiranya ALLAH memperlihatkan mereka kepadamu berjumlah
banyak tentu saja kalian menjadi gentar dan kalian akan
berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi ALLAH telah
menyelamatkan kalian.”
[QS.al-Anfal:43]
Dengan mimpi ini tercegahlah kemudaratan yang bisa terjadi.
Demikian pula mimpi Nabi dalam firman ALLAH:
“Sesungguhnya ALLAH membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran
mimpinya dengan sebenarnya yaitu sesungguhnya kalian pasti akan memasuki
Masjidil Haram, insyaAllah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut
kepala kalian dan mengguntingnya sedangkan kalian tidak merasa takut.
ALLAH mengetahui apa yang tidak kalian ketahui dan Dia memberikan
sebelum itu kemenangan yang dekat.”
[QS.al-Fath: 27]
ALLAH
mewujudkan mimpi Rasul-Nya di alam nyata. Beliau dan para sahabatnya
dapat masuk ke kota Makkah untuk melaksanakan ibadah kepada-Nya dengan
aman tanpa perasaan takut.
Perhatikan pula mimpi adzan dan iqamah
dari dua sahabat Rasulullah, Abdullah ibnu Zaid dan Umar ibnul
Khaththab. Mimpi ini menjadi sebab disyariatkannya adzan, yang merupakan
salah satu syiar agama yang paling besar.
Mimpi (yang benar)
dari para nabi, para wali, dan orang-orang shalih, bahkan kaum mukminin
secara umum, mengandung manfaat dan buah yang baik. Ini termasuk nikmat
ALLAH kepada hamba-hamba-Nya, kabar gembira bagi kaum mukminin,
peringatan bagi orang-orang yang lalai, mengingatkan orang-orang yang
berpaling, dan penegakan hujjah bagi orang-orang yang menentang.
Seseorang
yang bermimpi yang baik hendaknya memuji ALLAH dan memohon
perealisasiannya. Ia menceritakan mimpinya hanya kepada orang yang
dicintainya dan mencintainya, sehingga orang itu turut berbahagia dengan
kebahagiaannya dan mendoakan agar mimpi tersebut menjadi kenyataan.
Ia
tidak boleh menceritakan mimpinya kepada orang yang tidak menyukainya,
agar orang yang tidak suka tersebut tidak menakwilnya dengan penakwilan
yang mencocoki hawa nafsunya, atau berupaya menghilangkan kenikmatan
tersebut karena hasad.
Terkadang mimpi yang benar dilihat oleh
hamba sama dengan yang terjadi di alam nyata, sebagaimana mimpi tentang
adzan. Terkadang mimpi itu berupa permisalan yang kemudian ditakwil
dengan hal-hal yang bisa dinalar yang terjadi di alam nyata.
Contohnya seperti mimpi Nabi beberapa waktu sebelum terjadi perang Uhud.
Beliau bermimpi di pedang beliau ada rekahan/retak dan melihat seekor sapi betina disembelih.
Ternyata
retak pada pedang beliau tersebut maksudnya adalah paman beliau, Hamzah
bin Abdil Muththalib, akan gugur sebagai syahid. Kabilah
(kerabat/keluarga) seseorang kedudukannya seperti pedangnya dalam
pembelaan, dukungan dan pertolongan yang mereka berikan.
Adapun sapi
betina yang disembelih maksudnya adalah beberapa sahabat beliau akan
gugur sebagai syuhada. Sapi betina memiliki banyak kebaikan, demikian
pula keberadaan para sahabat. Mereka adalah orang-orang yang berilmu,
memberi manfaat bagi para hamba dan memiliki amal-amal saleh.
(al-Minhaj)
Mimpi-mimpi yang dilihat ini berbeda-beda sesuai
dengan perbedaan orang yang bermimpi, perbedaan waktu, kebiasaan dan
beragamnya keadaan.
(Bahjatu Qulubil Abrar hlm. 159, Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin).
Demikianlah
sudut pandang Islam terhadap mimpi atau bunga tidur, semoga kita dapat
menjadikannya sebagai acuan ketika mengalami mimpi, baik itu mimpi buruk
maupun mimpi yang baik.
http://my.opera.com/cahayaislami/blog/2013/04/20/mimpi-ditinjau-dari-sudut-pandang-islam
No comments:
Post a Comment